Tentang Seseorang..
Dia duduk dibawah pohon yang tidak bisa dibilang besar,
namun tetap bisa menjadi tempat bersandar dan bersantai dikala panas dan penat.
Dia melirik jalan, sesekali melihat buku catatan atau LKS yang ada
dipangkuannya. Dia bukan menghilangkan lelah atau ingin bersantai disana,
melainkan tugasnyalah pagi itu untuk berjaga, menunggu dan mengabsen kedatangan
anggota lainnya. Sebagai salah satu orang terpilih di sebuah ekskul yang memang
salah satu tugasnya adala duduk menunggu dan menertibkan anggota dibawah pohon
itu. aku bahkan dia sampai sekarang tidak tahu sejak kapan pohon itu ada, kami
hanya menikmati udara pagi disana, saling menyapa dan melihat kondisi yang
lainnya. Mungkin itu juga salah satu manfaat dari tugas dia sebagai tukang absen di ekskul kami. Matanya
teduh, sarat akan kepribadiannya sebagai sang melankolis sejati, itu juga
alasanku memilih dia sebagai salah satu orang yang dipercaya mengemban tugas
personil dan tertib menertib lainnya. Ia memang tidak sendiri, ada beberapa
orang lainnya yang tipa harinya bergantian menjadi penunggu taman pagi. Pohon
tadi yang aku ceritakan memang berada disebuah taman kecil dengan ditemani
beberapa pohon dan bangku melingkar lainnya. ‘Besok dibawa ya pena sama
kertasnya, jadi 10’ itu katanya ketika salah satu anggota lupa mengenakan
beberapa atribut. Dia tidak bertampang kejam untuk ukuran penertib anggota,
juga tidak begitu menyeramkan untuk membuat anggotanya jera. Tapi dia melakukan
tugasnya dengan baik, apapun itu.
‘cepet cepet nggi, satu menit lagi’ sambil tertawa ala dia
ketika aku hampir telat. Aku bukanlah orang yang sering telat, bahkan bisa
dibilang aku jarang telat. Tapi aku juga tidak bisa terus menerus datang
terlalu pagi, sehingga seperti inilah kadang yang terjadi. Aku tiba diwaktu
yang sangat tepat.
‘siapa aja neng yang udah absen?’ aku bertanya sambil menyudahi
absen, dan duduk ditempat aku menaruh tas tadi. Ikut menemani dia menunggu
kedatangan yang lainnya. Dia menyebut orang – orang yang sudah absen. ‘ho, dian
mana?’ aku menanyakan salah satu rekanku yang sering nongkrong di taman ini dan
selalu datang pagi, tapi tidak terlihat kegendutannya disini. ‘ke kelas, lagi
ngerjain apa gitu tadi katanya, eh nggi aku mau ngomong’ katanya sambil
mentapku dengan tatapan yang selalu membuatku kadang tidak tega, kadang ingin
tertawa dan banyak macam lainnya. Pasti ada
apa apa ini, dugaku dalam hati. ‘apaan? Yaudah ngomong aja’ ‘itun nggi,
adekku itu gimana ya? Udah jarang absen, aku sms ga dibales’ tuh kan bener. ‘udah
diajakin ngomong belum?’ ‘yaa belum, lah aku sms aja ga dibales’ sambil
menggerak – gerakkan pena yang dari pertama aku melihatnya pagi ini belum ia
lepas sama sekali. ‘yaudah santai aja, nanti aku temenin. Ga usah sms – sms lagi.
Langsung kita temuin aja, biar jelas juga’ kataku menenangkan. ‘ho, iyaa juga
yaa’ ia tersenyum cekikian seperti biasa, kini pena itu ada didepan mulutnya,
dipukulkannya ke depan bibirnya.
Satu persatu orang kembali datang, dan dia harus memberikan
mereka hukuman karena kedatangan mereka yang terlambat. ‘telat 10 ti, hih telat
terus’ katanya menegur rekan seangkatanku, yang ditegur cengengesan, sudah
menduga bakal diomelin. ‘tau nih telat mulu. Kalo diliat adek adek gimana?’ aku
ikut memarahi orang yang suka telat satu ini. ‘hehehe, maap sih kun. Eh diane,
si adul udah absen belum?’ ini manusia memang pandai mengalihkan. Yang ditanya
cengengesan, ‘udah ti, barusan aja hihi’ masih kesenengan. Adul adalah junior
kami, yang kami kecengin bersama – sama juga merupakan adik asuh dari rekan
seangkatanku yang gawenya telat ini. ‘yah, aku nggak liat dong diane. Padahal
ada yang mau kuomonginlah ke dia itu.’ kata sang kakak asuh kecewa. ‘makanya
jangan telat’ yang dipanggil diane masih sewot. Ya, orang yang sedari tadi aku
ceritakan bernama Dian Eka Fitriani, biasa kami memanggilnya dengan diane. Kalau
ditanya siapa pencetusnya aku juga tidak tahu, kalau ditanya kenapanya aku
tahu. Itu karena banyaknya orang bernama dian, sehingga menyulitkan teman –
temannya untuk memanggilnya, oleh karenanya dia dipanggil diane karena kata
dian pun langsung bertemu huruf E dari kata Eka. Aku belum lama mengenalmya. Dia
emrupakan rekan seangkatanku yang masuk ke ekskul ini ridak berbarenagn dengan
aku dan aknggita lainnya. Baru ditahun kedua kami, Ia menjadi anggota sah
ekskul kami. Itu karena dia tertarik ketika rekanku yang tadi telat itu
membuatnya terpesona dan masuk ke ekskul ini.
Meski aku belum lama mengenalnya, tapi aku bisa dibilang
dekat dengannya. Ia orang berwatak melankolis sejati, sangat rapih dan penuh
perasaan, mungkin itu pula yang membuatku dekat dengannya. Aku kerap kali
nyaman dnegan para melankolis.
Belakangan ini, Ia mulai banyak berubah dari segi
penampilan, aku mengomentarinya ketika kami bertemu beberapa waktu yang lalu. Dia
hanya senyam – senyum menanggapi. Kukira itu karena efek kami yang mulai
memasuki dunia perkuliahan, ternyata tidak. Belakangan kutahu, dia mulai jatuh
cinta kembali. Dengan tipenya sebagai
melankolis sejati, dia memanglah orang yang setia. ‘nggi, lagi sibuk nggak?’ pasti ada apa apa, aku yang mengenalnya
dengan baik sekarang ini mulai berani menyimpulkan. ‘nggak kok, kenapose?’ ‘aku
mau cerita, blaabalaabaja’ akhirnya semua cerita mengalir begitu saja. Sejujurnya
aku kerap kali tertawa membaca smsnya. Aku membayangkan tampang salting dengan
wajah memerah darinya. Intinya adalah dia sedang jatuh cinta kembali, dia sudah
berhasil berpindah. Dia move on. Dia sudah bisa merelakan orang yang selama 6
tahun ini menutupi segala ruang untuk dimasuki orang lain. Dan orang lain itu
berwatak snguin, sama seperi orang yang selama 6 tahun ini selalu ada
dipikirannya. ‘emang kenapa sih aku ini selalu tertariknya sama orang sanguin?’
dia menanyakan sesuatu yang sebenernya hanya dialah yang tau jawabannya. Tapi toh
aku tetap menjawabnya. ‘udah jodoh emang diane, yang mealn naksir yang sanguin.
Sanguin kan mencolok haha’ ‘nggi, aku galau’ hahaha dia galau karena dia sudah
sebisa mungkin terlihat suka, tapi semua orang termasuk orang yang digalauin
ini merasa dia terlalu cuek dan tidak suka dengan orang itu. aku mengatakan
padanya untuk banyak – banyak tersenyum, dan menghilangkan wajah lempengnya
itu. ‘ya gimana loh nggi, udah darin orok mukanya gini.’ ‘tapi kan bisa dilatih
diane’ ‘iyaa sih, eh besok aku mau ketemuan sama itu’ ini artinya dia meau
menyudahi dengan orang 6 tahunnya ini. ‘mau ngapain?’ pertanyaan standar yang
sebenernya aku bisa menduga jawabannya. ‘mau ngasih kado, kemaren kan dia ulang
tahun. Terus juga sekalian mau ngomong. Gimana ya kalo aku ngomong ke dia kalo
aku udah nemu anti virusnya’ memang diantara dia dan orang itu sudah saling
mengetahui, sudah tak ada yang oerlu ditutupi, bahkan ketika laki – laki itu
punya pacar pun semua diceritakannya, dan sang perempuan ini pun sudah
mengatakan semuanya. Dan itu menginspirasiku, membuat rencana yang tak pernah
terlaksanakan itu akan kulaksanakan ketika seseorang itu pulang.’eh gimana
gimana tadi?’ aku menanyakan bagaimana hasil pertemuannya dengan orang itu. ‘nanti
aku telpon aja ya, aku lagi dijalan’ okelah, akhinrnya rasa penasaranku harus
tertunda. Sore, sekitar pukul setengah 4 dia menelponku. Menceritakan banyak
hal, juga akhirnya harus ngalor ngidul ngomongin kuliah. Aku sudah yakin bahwa
orang 6tahun itu sebenernya tidak rela, tapi diane bialng pada akhinrya dia
bilang tidak apa apa. Selesai membicarakan orang 6tahun itu, kami kembali
menceritakan anti virusnya. ‘doain dia juga di UGM ya nggi’ ‘iyaa diane, semoga
aku dan dia nyusul dirimu di UGM’ aku emang pengen banget nyusul diane di UGM,
aku dan anti virusnya memang harus menunggu pengumuman tertulis, sedangkan
diane sudah tenang karena dia mendapatkan udangan untuk menjadi mahasiswa UGM. Secara
otak diane tentu saja bisa masuk HI, bahkana akuntansi. Tapi kecintaannya
terhadap sejarah membuatnya memilih ilmu sejarah dan tidak yang lainnya. Dan dia
berhasil masuk kesana tanpa tes. Diane bahkan masuk SMA pun tanpa tes. Diane itu
pintar, tapi tak pernah terlihat sok pintar. Dan itu juga yang membuatku nyaman
bersamanya. Darinya pun kau belajar banyak hal, dari tentang kerapihan, sampai
urusan percintaan. Cuma ada satu hal yang aku tahu, tapi dia tak tahu bahwa aku
mengetahuinya. Aku bisa saja bertanya padanya. Tapi aku tak mau, aku akan bersabar
sampai suatu hari dia sendiri yang akan menceritakannya padaku.
Terima kasih buat semua yang sudah diberikan kepadaku. Tentang
kesabaran juga kebahagiaan. Semoga kita satu kampus lagi yaa. Masih banyak yang
perlu dibagi J
No comments:
Post a Comment