Saturday, June 30, 2012

tentang seseorang #part 1


Tentang Seseorang..
Dia duduk dibawah pohon yang tidak bisa dibilang besar, namun tetap bisa menjadi tempat bersandar dan bersantai dikala panas dan penat. Dia melirik jalan, sesekali melihat buku catatan atau LKS yang ada dipangkuannya. Dia bukan menghilangkan lelah atau ingin bersantai disana, melainkan tugasnyalah pagi itu untuk berjaga, menunggu dan mengabsen kedatangan anggota lainnya. Sebagai salah satu orang terpilih di sebuah ekskul yang memang salah satu tugasnya adala duduk menunggu dan menertibkan anggota dibawah pohon itu. aku bahkan dia sampai sekarang tidak tahu sejak kapan pohon itu ada, kami hanya menikmati udara pagi disana, saling menyapa dan melihat kondisi yang lainnya. Mungkin itu juga salah satu manfaat dari tugas dia sebagai tukang absen di ekskul kami. Matanya teduh, sarat akan kepribadiannya sebagai sang melankolis sejati, itu juga alasanku memilih dia sebagai salah satu orang yang dipercaya mengemban tugas personil dan tertib menertib lainnya. Ia memang tidak sendiri, ada beberapa orang lainnya yang tipa harinya bergantian menjadi penunggu taman pagi. Pohon tadi yang aku ceritakan memang berada disebuah taman kecil dengan ditemani beberapa pohon dan bangku melingkar lainnya. ‘Besok dibawa ya pena sama kertasnya, jadi 10’ itu katanya ketika salah satu anggota lupa mengenakan beberapa atribut. Dia tidak bertampang kejam untuk ukuran penertib anggota, juga tidak begitu menyeramkan untuk membuat anggotanya jera. Tapi dia melakukan tugasnya dengan baik, apapun itu.
‘cepet cepet nggi, satu menit lagi’ sambil tertawa ala dia ketika aku hampir telat. Aku bukanlah orang yang sering telat, bahkan bisa dibilang aku jarang telat. Tapi aku juga tidak bisa terus menerus datang terlalu pagi, sehingga seperti inilah kadang yang terjadi. Aku tiba diwaktu yang sangat tepat.
‘siapa aja neng yang udah absen?’ aku bertanya sambil menyudahi absen, dan duduk ditempat aku menaruh tas tadi. Ikut menemani dia menunggu kedatangan yang lainnya. Dia menyebut orang – orang yang sudah absen. ‘ho, dian mana?’ aku menanyakan salah satu rekanku yang sering nongkrong di taman ini dan selalu datang pagi, tapi tidak terlihat kegendutannya disini. ‘ke kelas, lagi ngerjain apa gitu tadi katanya, eh nggi aku mau ngomong’ katanya sambil mentapku dengan tatapan yang selalu membuatku kadang tidak tega, kadang ingin tertawa dan banyak macam lainnya. Pasti ada apa apa ini, dugaku dalam hati. ‘apaan? Yaudah ngomong aja’ ‘itun nggi, adekku itu gimana ya? Udah jarang absen, aku sms ga dibales’ tuh kan bener. ‘udah diajakin ngomong belum?’ ‘yaa belum, lah aku sms aja ga dibales’ sambil menggerak – gerakkan pena yang dari pertama aku melihatnya pagi ini belum ia lepas sama sekali. ‘yaudah santai aja, nanti aku temenin. Ga usah sms – sms lagi. Langsung kita temuin aja, biar jelas juga’ kataku menenangkan. ‘ho, iyaa juga yaa’ ia tersenyum cekikian seperti biasa, kini pena itu ada didepan mulutnya, dipukulkannya ke depan bibirnya.
Satu persatu orang kembali datang, dan dia harus memberikan mereka hukuman karena kedatangan mereka yang terlambat. ‘telat 10 ti, hih telat terus’ katanya menegur rekan seangkatanku, yang ditegur cengengesan, sudah menduga bakal diomelin. ‘tau nih telat mulu. Kalo diliat adek adek gimana?’ aku ikut memarahi orang yang suka telat satu ini. ‘hehehe, maap sih kun. Eh diane, si adul udah absen belum?’ ini manusia memang pandai mengalihkan. Yang ditanya cengengesan, ‘udah ti, barusan aja hihi’ masih kesenengan. Adul adalah junior kami, yang kami kecengin bersama – sama juga merupakan adik asuh dari rekan seangkatanku yang gawenya telat ini. ‘yah, aku nggak liat dong diane. Padahal ada yang mau kuomonginlah ke dia itu.’ kata sang kakak asuh kecewa. ‘makanya jangan telat’ yang dipanggil diane masih sewot. Ya, orang yang sedari tadi aku ceritakan bernama Dian Eka Fitriani, biasa kami memanggilnya dengan diane. Kalau ditanya siapa pencetusnya aku juga tidak tahu, kalau ditanya kenapanya aku tahu. Itu karena banyaknya orang bernama dian, sehingga menyulitkan teman – temannya untuk memanggilnya, oleh karenanya dia dipanggil diane karena kata dian pun langsung bertemu huruf E dari kata Eka. Aku belum lama mengenalmya. Dia emrupakan rekan seangkatanku yang masuk ke ekskul ini ridak berbarenagn dengan aku dan aknggita lainnya. Baru ditahun kedua kami, Ia menjadi anggota sah ekskul kami. Itu karena dia tertarik ketika rekanku yang tadi telat itu membuatnya terpesona dan masuk ke ekskul ini.
Meski aku belum lama mengenalnya, tapi aku bisa dibilang dekat dengannya. Ia orang berwatak melankolis sejati, sangat rapih dan penuh perasaan, mungkin itu pula yang membuatku dekat dengannya. Aku kerap kali nyaman dnegan para melankolis.
Belakangan ini, Ia mulai banyak berubah dari segi penampilan, aku mengomentarinya ketika kami bertemu beberapa waktu yang lalu. Dia hanya senyam – senyum menanggapi. Kukira itu karena efek kami yang mulai memasuki dunia perkuliahan, ternyata tidak. Belakangan kutahu, dia mulai jatuh cinta kembali. Dengan tipenya sebagai melankolis sejati, dia memanglah orang yang setia. ‘nggi, lagi sibuk nggak?’ pasti ada apa apa, aku yang mengenalnya dengan baik sekarang ini mulai berani menyimpulkan. ‘nggak kok, kenapose?’ ‘aku mau cerita, blaabalaabaja’ akhirnya semua cerita mengalir begitu saja. Sejujurnya aku kerap kali tertawa membaca smsnya. Aku membayangkan tampang salting dengan wajah memerah darinya. Intinya adalah dia sedang jatuh cinta kembali, dia sudah berhasil berpindah. Dia move on. Dia sudah bisa merelakan orang yang selama 6 tahun ini menutupi segala ruang untuk dimasuki orang lain. Dan orang lain itu berwatak snguin, sama seperi orang yang selama 6 tahun ini selalu ada dipikirannya. ‘emang kenapa sih aku ini selalu tertariknya sama orang sanguin?’ dia menanyakan sesuatu yang sebenernya hanya dialah yang tau jawabannya. Tapi toh aku tetap menjawabnya. ‘udah jodoh emang diane, yang mealn naksir yang sanguin. Sanguin kan mencolok haha’ ‘nggi, aku galau’ hahaha dia galau karena dia sudah sebisa mungkin terlihat suka, tapi semua orang termasuk orang yang digalauin ini merasa dia terlalu cuek dan tidak suka dengan orang itu. aku mengatakan padanya untuk banyak – banyak tersenyum, dan menghilangkan wajah lempengnya itu. ‘ya gimana loh nggi, udah darin orok mukanya gini.’ ‘tapi kan bisa dilatih diane’ ‘iyaa sih, eh besok aku mau ketemuan sama itu’ ini artinya dia meau menyudahi dengan orang 6 tahunnya ini. ‘mau ngapain?’ pertanyaan standar yang sebenernya aku bisa menduga jawabannya. ‘mau ngasih kado, kemaren kan dia ulang tahun. Terus juga sekalian mau ngomong. Gimana ya kalo aku ngomong ke dia kalo aku udah nemu anti virusnya’ memang diantara dia dan orang itu sudah saling mengetahui, sudah tak ada yang oerlu ditutupi, bahkan ketika laki – laki itu punya pacar pun semua diceritakannya, dan sang perempuan ini pun sudah mengatakan semuanya. Dan itu menginspirasiku, membuat rencana yang tak pernah terlaksanakan itu akan kulaksanakan ketika seseorang itu pulang.’eh gimana gimana tadi?’ aku menanyakan bagaimana hasil pertemuannya dengan orang itu. ‘nanti aku telpon aja ya, aku lagi dijalan’ okelah, akhinrnya rasa penasaranku harus tertunda. Sore, sekitar pukul setengah 4 dia menelponku. Menceritakan banyak hal, juga akhirnya harus ngalor ngidul ngomongin kuliah. Aku sudah yakin bahwa orang 6tahun itu sebenernya tidak rela, tapi diane bialng pada akhinrya dia bilang tidak apa apa. Selesai membicarakan orang 6tahun itu, kami kembali menceritakan anti virusnya. ‘doain dia juga di UGM ya nggi’ ‘iyaa diane, semoga aku dan dia nyusul dirimu di UGM’ aku emang pengen banget nyusul diane di UGM, aku dan anti virusnya memang harus menunggu pengumuman tertulis, sedangkan diane sudah tenang karena dia mendapatkan udangan untuk menjadi mahasiswa UGM. Secara otak diane tentu saja bisa masuk HI, bahkana akuntansi. Tapi kecintaannya terhadap sejarah membuatnya memilih ilmu sejarah dan tidak yang lainnya. Dan dia berhasil masuk kesana tanpa tes. Diane bahkan masuk SMA pun tanpa tes. Diane itu pintar, tapi tak pernah terlihat sok pintar. Dan itu juga yang membuatku nyaman bersamanya. Darinya pun kau belajar banyak hal, dari tentang kerapihan, sampai urusan percintaan. Cuma ada satu hal yang aku tahu, tapi dia tak tahu bahwa aku mengetahuinya. Aku bisa saja bertanya padanya. Tapi aku tak mau, aku akan bersabar sampai suatu hari dia sendiri yang akan menceritakannya padaku.
Terima kasih buat semua yang sudah diberikan kepadaku. Tentang kesabaran juga kebahagiaan. Semoga kita satu kampus lagi yaa. Masih banyak yang perlu dibagi J

No comments:

Post a Comment