Thursday, June 28, 2012

Cerita angkot ungu

Pagi yang tak begitu cerah, juga tak terlalu mendung. Mentari belum menemani sang pagi.
06.35, terminal cukup sepi. Hanya beberapa remaja tanggung yang aku pun tak tahu akan apa yang mereka tunggu. Berdiri, aku pun menunggu angkutan datang. Sepi, tak ada angkutan bahkan angkutan langganan yang biasanya ngetem sekalipun.
Aku berjalan perlahan menuju seberang sebuah vihara, dimana biasanya angkutan yang tak ingin berlama – lama di terminal berbalik arah. Mencari penumpang yang ingin langsung berangkat tanpa menunggu, atau menjaring penumpang yang terburu – buru. Aku tidak terlalu siang untuk menaiki angkutan yang mana saja, namun tidak juga dapat dikatakan pagi untuk pasrah dengan angkutan manapun.
Satu angkutan datang, tanpa memilih aku menaikinya. Seorang anak SD laki – laki dan seorang anak SD perempuan yang lebih kecil dari anak SD laki – laki tersebut sudah duduk manis dibangku depan, samping pak supir. Aku menduga, mereka abudemen. Seperti kebanyakan anak SD lainnya.
Angkutan begitu sepi, hanya aku dan satu orang penumpang lain yang juga berseragam putih abu – abu seperti ku, aku yang duduk di belakan bahu sang pengemudi dapat melihat jelas dua siswa SD polos lewat kaca spion itu. Mereka tak berbincang – bincang layaknya anak kecil yang tak bisa diam, namun tangan kecil mereka memlin- milin apa saja yang ada disekitarnya. Polos, tanpa dosa. Raut muka bahagia mereka mampu menggantikan mentari yang bersembunyi pagi ini.
Angkutan terus melaju, hingga berbelok pada sebuah jalan. Melewati sebuah SD islam dan berhenti. Saatnya dua kakak beradik itu turun, aku menduga. Ternyata benar. Sang kakak laki – laki membuka pintu, berbalik arah dan mencium tangan si pengemudi, diikuti oleh sang adik perempuannya. Mungkin anak yang terlalu berbakti hingga pamit pada om abudemennya, pikirku. Mereka turun, mataku mengekor pada langkah kecil mereka. SD mereka memiliki sedikit tanjakan, aku masih dapat melihat sang kakak laki – laki menggandeng tangan adik perempuannya. Mantap, penuh percaya diri dan penuh kasih sayang. Aku tersentak, melihat penjagaan sederhana dari sanag kakak kepada adiknya. Aku beralih pada sang pengemudi, ia masih tersenyum. Tersenyum sejak kedua insan polos tadi mencium tangannya. Aku tertegun, mencari banyak kata untuk mewakili semua ini. Pagi ini begitu indah, tak kalah dengan birunya langit yang semakin cerah dan menjulang tinggi.
Esoknya aku naik angkutan yang sama dengan formasi yang sama, angkutan itu hari ini berisi penumpang yang sama. Tidak banyak, begitu sepi. Tapi aku tak melihat wajah muram dari sang pengemudi, ia sangat menikmati pekerjaannya. Aku melewati SD islam itu lagi, kedua saudara itu melakukan hal yang sama seperti kemarin, dan sang pengemudi memberikan respon yang sama. Tersnyum, bangga. Entah, aku mulai berani menyimpulkan. Mereka adalah keluarga.
Begitu jelas terpancar kehangatan daintara ketiganya, keluarga yang dipenuhi rasa syukur akan setiap rahmad yang diberikan TUHAN, tak ada raut kesal meski penumpang sangat sedikit, senyum polos dan pamit anak – anaknya membuat sang pengemudi bersemangat menapaki hari. Sebuah sktesa kehidupan yang begitu menakjubkan dari sebuah keluarga kecil yang sebenranya berjiwa besar. Sebuat potret hidup yang memberikan banyak pelajaran, tentang cinta, tentang kasih sayang, rasa syukur dan sebuah keluarga

No comments:

Post a Comment