Pagi yang
tak begitu cerah, juga tak terlalu mendung. Mentari belum menemani sang pagi.
06.35,
terminal cukup sepi. Hanya beberapa remaja tanggung yang aku pun tak tahu akan
apa yang mereka tunggu. Berdiri, aku pun menunggu angkutan datang. Sepi, tak
ada angkutan bahkan angkutan langganan yang biasanya ngetem sekalipun.
Aku berjalan
perlahan menuju seberang sebuah vihara, dimana biasanya angkutan yang tak ingin
berlama – lama di terminal berbalik arah. Mencari penumpang yang ingin langsung
berangkat tanpa menunggu, atau menjaring penumpang yang terburu – buru. Aku
tidak terlalu siang untuk menaiki angkutan yang mana saja, namun tidak juga
dapat dikatakan pagi untuk pasrah dengan angkutan manapun.
Satu
angkutan datang, tanpa memilih aku menaikinya. Seorang anak SD laki – laki dan
seorang anak SD perempuan yang lebih kecil dari anak SD laki – laki tersebut
sudah duduk manis dibangku depan, samping pak supir. Aku menduga, mereka
abudemen. Seperti kebanyakan anak SD lainnya.
Angkutan
begitu sepi, hanya aku dan satu orang penumpang lain yang juga berseragam putih
abu – abu seperti ku, aku yang duduk di belakan bahu sang pengemudi dapat
melihat jelas dua siswa SD polos lewat kaca spion itu. Mereka tak berbincang –
bincang layaknya anak kecil yang tak bisa diam, namun tangan kecil mereka
memlin- milin apa saja yang ada disekitarnya. Polos, tanpa dosa. Raut muka
bahagia mereka mampu menggantikan mentari yang bersembunyi pagi ini.
Angkutan
terus melaju, hingga berbelok pada sebuah jalan. Melewati sebuah SD islam dan
berhenti. Saatnya dua kakak beradik itu
turun, aku menduga. Ternyata benar. Sang kakak laki – laki membuka pintu,
berbalik arah dan mencium tangan si pengemudi, diikuti oleh sang adik
perempuannya. Mungkin anak yang terlalu
berbakti hingga pamit pada om abudemennya, pikirku. Mereka turun, mataku
mengekor pada langkah kecil mereka. SD mereka memiliki sedikit tanjakan, aku
masih dapat melihat sang kakak laki – laki menggandeng tangan adik
perempuannya. Mantap, penuh percaya diri dan penuh kasih sayang. Aku tersentak,
melihat penjagaan sederhana dari sanag kakak kepada adiknya. Aku beralih pada sang
pengemudi, ia masih tersenyum. Tersenyum sejak kedua insan polos tadi mencium
tangannya. Aku tertegun, mencari banyak kata untuk mewakili semua ini. Pagi ini
begitu indah, tak kalah dengan birunya langit yang semakin cerah dan menjulang
tinggi.
Esoknya aku
naik angkutan yang sama dengan formasi yang sama, angkutan itu hari ini berisi
penumpang yang sama. Tidak banyak, begitu sepi. Tapi aku tak melihat wajah
muram dari sang pengemudi, ia sangat menikmati pekerjaannya. Aku melewati SD
islam itu lagi, kedua saudara itu melakukan hal yang sama seperti kemarin, dan
sang pengemudi memberikan respon yang sama. Tersnyum, bangga. Entah, aku mulai
berani menyimpulkan. Mereka adalah keluarga.
Begitu jelas
terpancar kehangatan daintara ketiganya, keluarga yang dipenuhi rasa syukur
akan setiap rahmad yang diberikan TUHAN, tak ada raut kesal meski penumpang
sangat sedikit, senyum polos dan pamit anak – anaknya membuat sang pengemudi bersemangat
menapaki hari. Sebuah sktesa kehidupan yang begitu menakjubkan dari sebuah
keluarga kecil yang sebenranya berjiwa besar. Sebuat potret hidup yang
memberikan banyak pelajaran, tentang cinta, tentang kasih sayang, rasa syukur
dan sebuah keluarga
No comments:
Post a Comment