Sunday, June 24, 2012

copet


Kejadian hari ini menakjubkan, bukan berarti kejadian lainnya tidak menakjubkan. Tapi hari ini beda, aku menemukan sebuah realita lain sebuah kehidupan, nyata dan didepan mataku. Aku turut serta didalamnya tanpa melakukan apapun. Siang atau sore ini, aku tak paham dalam mennyebut waktu secara fenotip seperti itu. Itu pukul 15.30-an, di sebuah angkot yang memang selalu menimbulkan cerita selama hampir 3 tahun melakukan perjalanan bersamaku di bangku sekolah berseragam putih abu – abu ini. Aku memlilih pulang sendiri, teman ku yang lain sudah banyak yang pulang, dan beberapa masih di kelas. Menunggu hujan reda, oh ya, aku lupa hujan baru saja mengguyur bandar lampung yang panas dengan indah dan derasnya. Aku pulang menelusuri jalan kecil dengan rintik yang lumayan, di kejauhan aku melihat dua adik kelasku menembus hujan sepertiku. Sepertinya mereka tidak ingin lama – lama disekolah. Aku melihat mereka berjalan diujung jalan, dan aku masih tak jauh dari sekolah. Tiba – tiba disebuah rumah, salah satu diantara mereka jatuh. Aku terkikik, bukan menertawainya, aku kembali mengingat bahwa aku pun pernah jatuh di tempat yang sama dua tahun yang lalu. Rumah itu katanya rumah seorang dokter yang memiliki dua pintu utama, dan belakangan aku tahu –karena aku tak sengaja melihat salah satu gerbang utama terbuka lebar- ternyata didalamnya penataan rumah itu sungguh luar biasa. Di gerbang utama yang lainnya, jalanan seperti mendaki, dan terdiri dari batu – batu kali kecil yang diduetkan dengan semen atau semacam aspal. Tak begitu berbeda dengan yang lainnya, namun yang membuat orang kerap kali jatuh bukan hanya karena tanjakan kecil itu licin ketika habis atau sedang hujan –aku juga jatuh pada saat hujan baru reda ketika itu-, juga karena jalanan itu tidak mempunyai arah yang sama dengan arah pejalan kaki kebawah. Rumah itu menghadap ke barat, dan kami harus berjalan ke arah utara, sehingganya kehati – hatian sangat diperlukan dan lebih baik untuk lewat diaspal bawah saja jika tak ada mobil yang lewat. Terlepas dari mengingat kisah jatuh dua tahun yang lalu, adik – adik itu terlebih dahulu menaiki sebuah angkutan umum yang menunggu mereka, tapi angkutan itu pergi melihat aku yang masih jauh dan belum tentu menaiki angutannya. Aku tak keberatan, menelusuri jalan ini membuatku senang. Diujung jalan, aku menunggu satu sampai dua menit sebelum melihat angkutan berwarna ungu itu datang. Tak begitu banyak orang didalamnya, dan seperti biasa aku tak begitu peduli. Angkutan itu tidak langsung pergi, ia mundur dan kembali ke atas, melewati jalan yang tadi aku lewati karena mungkin ia pikir ini saatnya pulang sekolah dan akan ada banyak orang diatas. Sesungguhnya aku sedikit menyesal mengetahui fakta bahwa aku akan kembali keatas. Kenapa tidak dari tadi? Di pertengahan jalan, dua staf sekolah yang salah satunya kukenal dengan nama bu Maryati meneaiki angkutan yang aku naiki. Angkutan kembali berjalan hingga depan sekolahku, aku melihat tiga teman sekelasku yang baru keluar dan mereka kaget karena kami ternyata harusnya bisa barengan –itu yang aku baca dari raut muka mereka-, mereka tidak menaiki angkutan yang aku naiki karena angkutan itu tidak cukup untuk tiga orang dan mereka sudah memilih untuk pulang bersama. Maka hanya ada satu anak laki – laki, yang sepertinya adik kelasku yang naik dan duduk di depan. Aku masih sibuk dengan sms – sms di hapeku, ketika Ibu Maryati yang duduk disebelahku berteriak. Kenapa? Katanya dengan panik, rupanya Ibu – Ibu dipojok telah teriak terlebih dahulu, dan aku tak menyadarinya. Padahal jarak aku dan Ibu itu hanya terpisah dengan seorang Bapak. Perhatianku teralihkan, dan aku mulai mencerna duduk perkaranya. Seorang penumpang turun dibangku yang berlawanan denganku, sehingga Bapak disebelahku pindah, dan aku benar – benar duduk disebelah Ibu yang ditanya kenapa oleh Bu Maryati, Ibu itu dengan histeris berkata Ia kecopetan, tas nya dibeset dan Ia tidak punya uang untuk kembali ke Kalianda-rumahnya-, ia baru dari dinas mengurusi apalah yang aku tidak mengerti, tapi Bu Maryati dan Staf sekolahku lainnya mengerti, Ia masih histeris bilang ia kecopetan di Bus Bakauheni dan uang yang ia punya tinggal Rp 2.000,- itu pun Ia dapat dari tukang becak. Mengumandangkan cerita miris dengan raungan, tanpa menangis. Aku sudah mulai curiga, tapi aku tepis rasa dan pikiran negatif yang memang kerap kali kuciptakan. Ia masih histeris dan bercerita sesekali terdiam, dan kemudian histeris lagi. Bu Maryati dan dua Ibu – ibu lainnya terpana, aku juga sebenarnya. Bu Maryati menasehati dan bercerita sedikit tentang pengalamnnya dan pengalaman Ibu Staf sekolahku yang satunya dalam hal melihat dan mengalami yang namanya pencopetan. Ibu Maryati dan dua ibu lainnya pun tak lupa memberi Ibu itu uang, dimaksudkan untuk ongkos pulang Ibu itu ke Kalianda. Ibu yang bilang kecopetan itu kembali terlihat menelpon orang dan berkata sudah dibantu utnuk pulang, Ia terlihat benar – benar habis kecopetan. Tak lama Ibu staf harus turun, disusul oleh Ibu penumpang lain yang tadi memberi Ibu kecopetan itu uang. Tinggal Bu Maryati dan bapak – bapak juga seorang anak SMA yang baru naik. Ibu Maryati pun akhirnya turun di sebuah pasar, dan mengejutkan sekali di ujung Pasar Ibu yang mengaku kecopetan tadi pun ikut turun dengan ekspresi yang jauh dari kata habis kecopetan, angkutan kembali berjalan diiringi kebenaran kesimpulan – kesimpulan dari tadi juga doa yang banyak untuk para Ibu – Ibu yang sudah memberi Ibu kecopetan tadi uang. Tiba – tiba si supir membenarkan suara hatiku, Ia bilang Ibu itu penipu dan si supir bahkan tau ceritanya padahal ia tidak mendengarkan, ternyata ibu itu mengarang cerita yang sama sebelum itu, sang supir juga bilang ia bahkan dulu terjebak dan ikut kasihan serta memberi Ibu itu uang. Ia hanyak tidak ingin membuat Ibu itu malu, maka ia hanya diam saja dan tak mau mendengarkannya berbohong. Aku tersenyum, merasa sudah semakin dewasa dan melihat banyak sisi lain dari kehidupan ini. Memberi sedikit pelajaran lagi pada hidupku. Merasa diingatkan untuk mebali berhati – hati 

repost 8 februari 2012

No comments:

Post a Comment