Kejadian hari ini menakjubkan, bukan berarti kejadian
lainnya tidak menakjubkan. Tapi hari ini beda, aku menemukan sebuah realita
lain sebuah kehidupan, nyata dan didepan mataku. Aku turut serta didalamnya
tanpa melakukan apapun. Siang atau sore ini, aku tak paham dalam mennyebut
waktu secara fenotip seperti itu. Itu pukul 15.30-an, di sebuah angkot yang
memang selalu menimbulkan cerita selama hampir 3 tahun melakukan perjalanan
bersamaku di bangku sekolah berseragam putih abu – abu ini. Aku memlilih pulang
sendiri, teman ku yang lain sudah banyak yang pulang, dan beberapa masih di
kelas. Menunggu hujan reda, oh ya, aku lupa hujan baru saja mengguyur bandar
lampung yang panas dengan indah dan derasnya. Aku pulang menelusuri jalan kecil
dengan rintik yang lumayan, di kejauhan aku melihat dua adik kelasku menembus
hujan sepertiku. Sepertinya mereka tidak ingin lama – lama disekolah. Aku
melihat mereka berjalan diujung jalan, dan aku masih tak jauh dari sekolah.
Tiba – tiba disebuah rumah, salah satu diantara mereka jatuh. Aku terkikik,
bukan menertawainya, aku kembali mengingat bahwa aku pun pernah jatuh di tempat
yang sama dua tahun yang lalu. Rumah itu katanya rumah seorang dokter yang
memiliki dua pintu utama, dan belakangan aku tahu –karena aku tak sengaja melihat
salah satu gerbang utama terbuka lebar- ternyata didalamnya penataan rumah itu
sungguh luar biasa. Di gerbang utama yang lainnya, jalanan seperti mendaki, dan
terdiri dari batu – batu kali kecil yang diduetkan dengan semen atau semacam
aspal. Tak begitu berbeda dengan yang lainnya, namun yang membuat orang kerap
kali jatuh bukan hanya karena tanjakan kecil itu licin ketika habis atau sedang
hujan –aku juga jatuh pada saat hujan baru reda ketika itu-, juga karena
jalanan itu tidak mempunyai arah yang sama dengan arah pejalan kaki kebawah.
Rumah itu menghadap ke barat, dan kami harus berjalan ke arah utara,
sehingganya kehati – hatian sangat diperlukan dan lebih baik untuk lewat
diaspal bawah saja jika tak ada mobil yang lewat. Terlepas dari mengingat kisah
jatuh dua tahun yang lalu, adik – adik itu terlebih dahulu menaiki sebuah
angkutan umum yang menunggu mereka, tapi angkutan itu pergi melihat aku yang
masih jauh dan belum tentu menaiki angutannya. Aku tak keberatan, menelusuri
jalan ini membuatku senang. Diujung jalan, aku menunggu satu sampai dua menit
sebelum melihat angkutan berwarna ungu itu datang. Tak begitu banyak orang
didalamnya, dan seperti biasa aku tak begitu peduli. Angkutan itu tidak
langsung pergi, ia mundur dan kembali ke atas, melewati jalan yang tadi aku
lewati karena mungkin ia pikir ini saatnya pulang sekolah dan akan ada banyak
orang diatas. Sesungguhnya aku sedikit menyesal mengetahui fakta bahwa aku akan
kembali keatas. Kenapa tidak dari tadi? Di pertengahan jalan, dua staf sekolah
yang salah satunya kukenal dengan nama bu Maryati meneaiki angkutan yang aku
naiki. Angkutan kembali berjalan hingga depan sekolahku, aku melihat tiga teman
sekelasku yang baru keluar dan mereka kaget karena kami ternyata harusnya bisa
barengan –itu yang aku baca dari raut muka mereka-, mereka tidak menaiki
angkutan yang aku naiki karena angkutan itu tidak cukup untuk tiga orang dan mereka
sudah memilih untuk pulang bersama. Maka hanya ada satu anak laki – laki, yang
sepertinya adik kelasku yang naik dan duduk di depan. Aku masih sibuk dengan
sms – sms di hapeku, ketika Ibu Maryati yang duduk disebelahku berteriak.
Kenapa? Katanya dengan panik, rupanya Ibu – Ibu dipojok telah teriak terlebih
dahulu, dan aku tak menyadarinya. Padahal jarak aku dan Ibu itu hanya terpisah
dengan seorang Bapak. Perhatianku teralihkan, dan aku mulai mencerna duduk
perkaranya. Seorang penumpang turun dibangku yang berlawanan denganku, sehingga
Bapak disebelahku pindah, dan aku benar – benar duduk disebelah Ibu yang
ditanya kenapa oleh Bu Maryati, Ibu itu dengan histeris berkata Ia kecopetan,
tas nya dibeset dan Ia tidak punya uang untuk kembali ke Kalianda-rumahnya-, ia
baru dari dinas mengurusi apalah yang aku tidak mengerti, tapi Bu Maryati dan
Staf sekolahku lainnya mengerti, Ia masih histeris bilang ia kecopetan di Bus
Bakauheni dan uang yang ia punya tinggal Rp 2.000,- itu pun Ia dapat dari
tukang becak. Mengumandangkan cerita miris dengan raungan, tanpa menangis. Aku
sudah mulai curiga, tapi aku tepis rasa dan pikiran negatif yang memang kerap
kali kuciptakan. Ia masih histeris dan bercerita sesekali terdiam, dan kemudian
histeris lagi. Bu Maryati dan dua Ibu – ibu lainnya terpana, aku juga
sebenarnya. Bu Maryati menasehati dan bercerita sedikit tentang pengalamnnya
dan pengalaman Ibu Staf sekolahku yang satunya dalam hal melihat dan mengalami
yang namanya pencopetan. Ibu Maryati dan dua ibu lainnya pun tak lupa memberi
Ibu itu uang, dimaksudkan untuk ongkos pulang Ibu itu ke Kalianda. Ibu yang
bilang kecopetan itu kembali terlihat menelpon
orang dan berkata sudah dibantu utnuk pulang, Ia terlihat benar – benar habis
kecopetan. Tak lama Ibu staf harus turun, disusul oleh Ibu penumpang lain yang
tadi memberi Ibu kecopetan itu uang. Tinggal Bu Maryati dan bapak – bapak juga
seorang anak SMA yang baru naik. Ibu Maryati pun akhirnya turun di sebuah
pasar, dan mengejutkan sekali di ujung Pasar Ibu yang mengaku kecopetan tadi
pun ikut turun dengan ekspresi yang jauh dari kata habis kecopetan, angkutan kembali berjalan diiringi kebenaran kesimpulan
– kesimpulan dari tadi juga doa yang banyak untuk para Ibu – Ibu yang sudah
memberi Ibu kecopetan tadi uang. Tiba – tiba si supir membenarkan suara
hatiku, Ia bilang Ibu itu penipu dan si supir bahkan tau ceritanya padahal ia
tidak mendengarkan, ternyata ibu itu mengarang cerita yang sama sebelum itu,
sang supir juga bilang ia bahkan dulu terjebak dan ikut kasihan serta memberi
Ibu itu uang. Ia hanyak tidak ingin membuat Ibu itu malu, maka ia hanya diam
saja dan tak mau mendengarkannya berbohong. Aku tersenyum, merasa sudah semakin
dewasa dan melihat banyak sisi lain dari kehidupan ini. Memberi sedikit
pelajaran lagi pada hidupku. Merasa diingatkan untuk mebali berhati – hati
repost 8 februari 2012
No comments:
Post a Comment