Thursday, June 28, 2012

RP


Aku punya banyak orang dan perkumpulan yang berharga di hidup aku. Di cerita ini aku hanya menceritakan dua diantaranya. Dua yang terdiri dari R dan P, sama seperti mata uang kita, RP, penggabuangan keduanya juga memiliki nilai bagiku. Mereka bernilai, tapi tak bernominal. Entahlah, aku sulit menjelaskan. Keduanya penting, dan keduanya merupakan tempat yang nyaman bagiku, dimana aku tak perlu berpura – pura, dimana aku selalu menjadi diri sendiri. Tempat dimana aku apa adanya. Menangis ketika aku memang butuh menangis, tertawa ketika itu perlu ditertawakan. Jujur.
Di kedua tempat itu pula aku mengenal banyak orang dengan banyak kepribadian. Yang aku juga tak tahu kenapa seakan dunia mendekatkanku pada orang – orang disana. Aku dipercaya mengetahui sebagian dunia mereka, aku hampir dekat dengan semua orang disana. tidak hanya perempuan, tapi beberapa laki - laki juga. Karena memang tidak semua laki - laki disana menjadikanku pilihan untuk berkesempatan masuk kedalam hidupnya. Tapi aku selalu percaya dengan para lelaki disana, dikedua tempat itu. Membuatku merasa aman dan nyaman berada disekitar sana. Banyak hal serupa ditempat itu, meski nampak luar tak sama. Jauh berbeda, bahkan yang satu tak suka dengan tempat yang lain. Tapi mereka tak ada yang mengasingkanku, tak ada yang mencegah bahkan melarangku memasuki yang lainnya. Mereka menghargai pilihanku, meski beberapa diantara mereka mengaku cemburu. Cemburu jika aku terlihat lebih melihat tempat lainnya. Aku kini tak begitu mempermasalahkan, meski aku pernah mempermasalahkan ketika mereka (dengan bercanda) menghina yang lainnya. Tapi itu dulu. Ketika banyak hal yang aku lihat hanya dari satu sisi.
Dari sisi dalam, semua hampir sama. Mulai dari ornag – orangnya, pemikirannya dan banyak hal lainnya. Oh ya, ada satu lagi perbedaannya, bukan dari faktor mereka terhadapku. Juga bukan dari faktor opini luar, maupun tampak fisik luar, melainkan pada diriku. Aku lebih lama mengenal salah satu diantaranya, namun aku menemukan sesuatu justru di tempat yang belum begitu lama aku mengenalnya.
Disatu tempat, banyak diantara kami menemukan sesuatunya, cerita bahkan berputar – putar disitu. Dan bahkan hampir semua kisah aku ketahui dari orang – orangnya yang bercerita langsung padaku, dan satu dua kisah belum terkuak meski aku juga tahu. Aku hanya perlu memberinya waktu untuk menceritakannya padaku. Di tempat ini entahlah aku menganggap semuanya sama, mungkin itu yang menyebabkan aku tak menemukannya. Tapi tidak begitu juga sebenarnya, karena di tempat aku menemukan sesuatu itu juga awalnya semua kuanggap biasa. Lebih tepatnya seperti pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Di tempat yang baru ada seorang khusus yang terlalu intens berhubungan denganku.
Berbicara tentang sesuatu itu, beberapa orang disalah satu tempat sedang merasakan sesuatu itu meski adapula yang baru memadamkan sesuatu itu. Dan seperti yang kubilang, orang – orangnya hanya muter disitu – situ aja. Orang yang mereka ceritakan adalah orang yang ada dirombongan itu juga. Untungnya kelompok yang lagi merasakan ini adalah kelompok dimana aku tidak menemukan sesuatu itu, hingga aku tak perlu merasakan apapun. Aku hanya perlu mendengarkan semuanya. Menjadi saksi bisu sesuatu yang tak tersampaikan. Saksi bisu karena aku tak perlu memberitahu yang lainnya bahkan orang dalam objek cerita tersebut. Karena menurutku ada beberapa hal yang perlu mereka sendiri yang sampaikan, apalagi jika mereka adalah lelaki.
Kadang aku berfikir bahwa sangat masuk akal ketika mereka saling mersakan sesuatu dimasing – masing tempat itu. Seperti yang kubilang tadi, kami sudah sangat mengenal juga mengerti jalan pikiran masing – masing. Kurasa semua juga merasakannya, merasa nyaman dan aman berada diantara yang lainnya. Sehingga tidak perlu mencari dliuar sana, melainkan hanya perlu mengakui pada orang – orang yang ada disini. Sayangnya aku tak pernah bisa menyampaikannya, menyampaikan pada seseorang itu. Aku pernah berfikir juga penah sempat memutuskan untuk jujur mengakui. Hanya untuk membuatku lega, tidak yang lain. Hanya jujur mengakui. Tapi aku tak bisa, bahkan hanya untuk sekedar mengirim pesan singkat mengatakan sebuah perasaan yang sedang kurasa ketika itu, perasaan rindu. Aku tak bisa, bahkan sampai kini. Sampai aku sudah tidak tahu lagi bagaimana rasa ini padanya. Sudah tak lagi memikirkan dia, sudah tak lagi menjadi bagian hidup satu dan lainnya. Sudah tak lagi saling berbagi, bahkan ‘terlihat’ peduli. Meski terkadang ia masih terselip dalam doaku. Entahlah. Aku hanya tak bisa. Terkadang aku mengagumi para perempuan yang berani menunjukkan perasaannya, berani mengungkapkan apa yang ada dihatinya. Aku hanya tak bisa. Kadang persaanku selalu kalah dengan ego dan prinsip. Bahkan ketika aku mulai berfikir peduli apa dengan prinsip dan lainnya, aku hanya perlu mengatakannya. Tapi pada akhirnya aku tetap tidak mengatakannya. Tak pernah berani mengatakan aku kangen padanya. Nggak pernah berani. Bahkan disaat dia penah mengatakannya pun, aku tak pernah bisa membalas ucapan yang serupa. Aku nggaaaak tauuuuuuuuu. Ketika itu sesuat yang lain selalu mejadi kiblatku.
Aku kagum pada mereka yang bisa melakukannya, bisa membuang prinsip bahwa wanita harus mejadi pilihan, bukan memilih. Mereka berjuang, meski terkadang terlihat norak. Tapi mereka melakukan sesuatu, tidak seperti aku yang selalu bergelut dengan pikiran – pikiran ku sendiri.
Kadang pada orang yang berada disalah satu tempat itu, aku ingin mengatakannya. Hanya ingin mengatakannya, dia tak perlu membalas serupa, bahkan dia tak perlu memberi respon. Aku hanya ingin jujur mengakui, tanpa aku (mau) mengetahui apa yang dia rasa, apa rekasinya. Hanya ingin mengatakannya, tak mau mendengar apapun darinya.
Tapi pada akhirnya egokulah yang menang, ketika pertanyaan dan pikiran mulai bermunculan. Gimana kalo dia nanya kenapa bisa ngomong gitu? Gimana kalo dia justru bilang yang serupa hanya karena dia nggak mau melukai aku yang udah berani mengatakannya? atau gimana kalo dia bilang serupa hanya untuk menyenangkanku atau malah karena dia kasihan? Atau gimana kalo dia bahkan nggak memberi respon apapun? Apa iya aku Cuma mau bilang dan nggak kesel kalo dia bahkan nggak memberi respon apapun? Kuarasa aku tak sanggup. Dan pada akhirnya semua ego dan asumsi – asumsi ku itu memenangi semua, ditambah dengan kenyataan dia telah memilih seseorang. Kenyataan bahwa semua memang sudah berakhir, bahkan sebelum aku dan dia saling mengetahui. Kenyataan bahwa (mungkin) dari dulu sampai sekarang sesuatu itu hanya milikku sendiri.
Lagi, aku harus bilang aku menyukai kedua tempat itu, merasa nyaman di dua tempat itu, tapi tak banyak orang yang aku ceritakan tentang kisahku. Meski aku mengerti disatu tempat beberapa orang diantaranya mengetahui kisahku, meski aku tak pernah menceritakan kepadanya. Seperti aku, dia mengerti orang – orang di kedua tempat ini. Kami sama – sama mengerti, sama – sama mengetahui satu dan lainnya meski tanpa sebuah atau banyak kata yang tercurah. Kami hanya perlu menghargai, merasa tak perlu terlihat tahu, meski kami sama – sama tahu bahwa kami saling mengetahui. Itulah mengapa aku suka kedua tempat ini, begitu banyak orang yang saling mengerti.

No comments:

Post a Comment