Beberapa waktu yang lalu ketika aku ingin pergi ke suatu
tempat, aku melewati sebuah rumah yang hampir berada di ujung jalan. Ketika
dari dan atau menuju rumahku aku pasti melewati rumah itu. Itu salah satu rumah
tetanggaku, yang Ibuku bilang salah satu penghuni rumah itu adalah satu –
satunya tukang urut langgananku ketika aku bayi dulu. Aku ingat tentang hal
itu, tapi aku tidak tahu bahwa aku rutin diurut oleh beliau terutama jika aku
sedang rewel.
Aku melewati tempat itu juga tempat lainnya seperti biasa,
aku sedang tidak ingin mwmburu waktu. Sampailah aku di rumah tetangga ku itu.
Di tempat itu ada dua orang anak kecil dibawah lima tahun berjenis kelamin laki
– laki dan perempuan. Aku mengenali keduanya, yang satu adalah cicitnya mbah
tukang urutku, dan yang satunya lagi adalah adik teman kecilku.
Disinilah aku teringat sesuatu, bahwa dimasa dahulu aku
pernah melakukan hal yang sama seperti mereka. Aku ingat, aku pernah berada di
rumah seorang cowok seusiaku dan bermain bersamanya. Aku tidak ingat umur berapa
aku ketika itu, yang jelas saat itu aku belum sekolah dan aku masih terlalu
kecil untuk bermain sendiri. Betapa aku ingat, Ibuku juga tanteku sibuk mencari
aku ketika aku bermain terlalu jauh untuk yang pertama kalinya. Teman laki –
laki ku itu adalah kakaknya adik kecil yang sedang kulihat di rumah tukang
urutku itu.
Dan rumah teman kecilku itu memang cukup jauh untuk ukuran
tempat bermain anak – anak. Saat itu aku masih tinggal di rumah nenekku yang
berada di pinggir jalan, dan rumah teman kecilku itu pun berada lebih dekat
dengan pinggir jalan. Betapa bahanya pergi sendiri melewati pinggir jalan yang
biasa dilewati fuso dan bus patas. Betapa tidak, rumah kami berada di jalur
lintas Sumatera, dimana begitu banyak kendaraan besar yang lewat.
Ketika itu aku tidak begitu mengerti, aku hanya ingin
bermain. Dan dia salah satu dari dua sepertinya yang mau bermain denganku.
Meski aku hingga kini tak penah ingat apa yang kami mainkan ketika itu. Tapi
aku ingat kerap beberapa kali aku main ke rumahnya, tanpa mandi, tanpa
berpakaian rapih dan lengkap dan yang pasti tanpa malu.
Aku juga tidak ingat kapan aku memulai dan menghentikan aksi
main itu.
Mungkin itu terhenti ketika makin seringnya aku diajak
keluar kota oleh umehku. Aku tidak begitu ingat berapa kali aku main ke
tempatnya. Aku hanya ingat aku pernah bermain bersama nya, meski aku juga tidak
ingat apa yang kami mainkan.
Melihat kedua anak kecil di rumah tukang urutku itu, membuat
aku mengingat kembali masa kecilku itu. masa ketika sepertinya aku hidup hanya
perlu melakukan yang aku mau. Tanpa berfikir akan banyak resiko, lihat saja
ketika kecil dulu aku tak berfikir sama sekali aku akan tertabrak, atau
terserempet mobil besar. Ketika itu aku hanya ingin main titik
Aku juga ingat betapa masa kecilku masa dimana semua jujur,
polos dan berjalan apa adanya. Tanpa peduli kata orang, tanpa peduli pada
gengsi juga hal lainnya. Kalau difikir mungkin jika pada saat ini kami
mengulang bermain bersama, hal yang kami lakukan dulu (meski aku tidak ingat)
tidak bisa kami lakukan dimasa kini. Pertama karena kami kini peduli kata
orang, anak laki – laki dan perempuan yang bermain bersama kerap kali dicurigai
orang lain.
Jika kami main bersama kini, toh kami juga tak mungkin
memainkan permainan yang sama. Karena banyak sekali batas antara pria dan
wanita yang mulai tumbuh besar. Ketika ada sesuatu yang tidak boleh dimainkan para
wanita, juga ada beberapa hal yang dianggap tabu jika dimainkan para pria.
Aku kembali melihat kepada dua adik kecil berbeda jenis
kelamin itu. mereka tak peduli, toh tak ada juga yang akan membicarakan mereka.
Mereka polos, megatakan apa yang perlu dikatakan, marah dan berbaikan kembali.
Bahkan memainkan benda yang sama, ketika barbie itu dipegang dengan gagah oleh
adik laki – laki itu, juga mobil – moblian itu didorong dengan gembira oleh
adik perempuan kecil itu.
Mereka terlihat senang, juga menikmati apa yang mereka
lakukan. Tak perlu memikirkan bagaimana kelak nanti menjadi dewasa, mereka
hanya perlu melakukan hal yang mereka anggap benar tanpa harus dimarahi atau
diperingati orang tua mereka. Karena ketika orang tua mereka diam saja ketika
mereka melakukan sesuatu maka mereka menganggap bahwa itu benar. Dan mereka
hanya perlu melakukan hal yang membuat mereka senang, berani mencoba sampai mereka
mengerti bahwa mereka telah melakukan hal yang salah ketika orang tua mereka
mulai berwajah tidak mengenakkan.
Mereka berani mencoba.
Aku teringat ketika salah satu seniorku menayangkan sebuah
video yang intinya adalah ketika kita kecil dulu. Banyak hal yang ketika kita
kecil dulu bisa kita lakukan dan kini tidak bisa kita lakukan. Ketika kita
takut untuk mencoba, berfikir banyak hal akan resiko juga tak jujur pada apa
yang kita inginkan bahkan kepada diri sendiri.
Melihat kedua anak kecil itu, juga mengingat akan masa
laluku membuatku kembali belajar. Belajar untuk kembali mempunyai mimpi yang
besar, tanpa peduli kata orang, dan berani untuk mengambil resiko tanpa perlu
banyak berfikir akan resiko itu sendiri.
Meski aku masih mulai menumbuhkannya, aku mulai berusaha.
Berusaha untuk menggapainya. Seorang temanku bilang untuk berani mengambil
kedua pilihanku itu, yang meski kalau difikir merupakan pilihan nekat. Tapi aku
akan berusaha, berusaha untuk memilih itu.
Saat ini mungkin aku masih belum yakin, tapi aku yakin pada
saat masanya tiba, saat aku memang harus memilih. Aku akan memilih keduanya.
Semangaaaaaaaat!
Sekali lagi aku harus berterima kasih kepada pengajar –
pengajar kehidupan J
No comments:
Post a Comment