Thursday, June 28, 2012

Pengajar Kehidupan


Beberapa waktu yang lalu ketika aku ingin pergi ke suatu tempat, aku melewati sebuah rumah yang hampir berada di ujung jalan. Ketika dari dan atau menuju rumahku aku pasti melewati rumah itu. Itu salah satu rumah tetanggaku, yang Ibuku bilang salah satu penghuni rumah itu adalah satu – satunya tukang urut langgananku ketika aku bayi dulu. Aku ingat tentang hal itu, tapi aku tidak tahu bahwa aku rutin diurut oleh beliau terutama jika aku sedang rewel.
Aku melewati tempat itu juga tempat lainnya seperti biasa, aku sedang tidak ingin mwmburu waktu. Sampailah aku di rumah tetangga ku itu. Di tempat itu ada dua orang anak kecil dibawah lima tahun berjenis kelamin laki – laki dan perempuan. Aku mengenali keduanya, yang satu adalah cicitnya mbah tukang urutku, dan yang satunya lagi adalah adik teman kecilku.
Disinilah aku teringat sesuatu, bahwa dimasa dahulu aku pernah melakukan hal yang sama seperti mereka. Aku ingat, aku pernah berada di rumah seorang cowok seusiaku dan bermain bersamanya. Aku tidak ingat umur berapa aku ketika itu, yang jelas saat itu aku belum sekolah dan aku masih terlalu kecil untuk bermain sendiri. Betapa aku ingat, Ibuku juga tanteku sibuk mencari aku ketika aku bermain terlalu jauh untuk yang pertama kalinya. Teman laki – laki ku itu adalah kakaknya adik kecil yang sedang kulihat di rumah tukang urutku itu.
Dan rumah teman kecilku itu memang cukup jauh untuk ukuran tempat bermain anak – anak. Saat itu aku masih tinggal di rumah nenekku yang berada di pinggir jalan, dan rumah teman kecilku itu pun berada lebih dekat dengan pinggir jalan. Betapa bahanya pergi sendiri melewati pinggir jalan yang biasa dilewati fuso dan bus patas. Betapa tidak, rumah kami berada di jalur lintas Sumatera, dimana begitu banyak kendaraan besar yang lewat.
Ketika itu aku tidak begitu mengerti, aku hanya ingin bermain. Dan dia salah satu dari dua sepertinya yang mau bermain denganku. Meski aku hingga kini tak penah ingat apa yang kami mainkan ketika itu. Tapi aku ingat kerap beberapa kali aku main ke rumahnya, tanpa mandi, tanpa berpakaian rapih dan lengkap dan yang pasti tanpa malu.
Aku juga tidak ingat kapan aku memulai dan menghentikan aksi main itu.
Mungkin itu terhenti ketika makin seringnya aku diajak keluar kota oleh umehku. Aku tidak begitu ingat berapa kali aku main ke tempatnya. Aku hanya ingat aku pernah bermain bersama nya, meski aku juga tidak ingat apa yang kami mainkan.
Melihat kedua anak kecil di rumah tukang urutku itu, membuat aku mengingat kembali masa kecilku itu. masa ketika sepertinya aku hidup hanya perlu melakukan yang aku mau. Tanpa berfikir akan banyak resiko, lihat saja ketika kecil dulu aku tak berfikir sama sekali aku akan tertabrak, atau terserempet mobil besar. Ketika itu aku hanya ingin main titik
Aku juga ingat betapa masa kecilku masa dimana semua jujur, polos dan berjalan apa adanya. Tanpa peduli kata orang, tanpa peduli pada gengsi juga hal lainnya. Kalau difikir mungkin jika pada saat ini kami mengulang bermain bersama, hal yang kami lakukan dulu (meski aku tidak ingat) tidak bisa kami lakukan dimasa kini. Pertama karena kami kini peduli kata orang, anak laki – laki dan perempuan yang bermain bersama kerap kali dicurigai orang lain.
Jika kami main bersama kini, toh kami juga tak mungkin memainkan permainan yang sama. Karena banyak sekali batas antara pria dan wanita yang mulai tumbuh besar. Ketika ada sesuatu yang tidak boleh dimainkan para wanita, juga ada beberapa hal yang dianggap tabu jika dimainkan para pria.
Aku kembali melihat kepada dua adik kecil berbeda jenis kelamin itu. mereka tak peduli, toh tak ada juga yang akan membicarakan mereka. Mereka polos, megatakan apa yang perlu dikatakan, marah dan berbaikan kembali. Bahkan memainkan benda yang sama, ketika barbie itu dipegang dengan gagah oleh adik laki – laki itu, juga mobil – moblian itu didorong dengan gembira oleh adik perempuan kecil itu.
Mereka terlihat senang, juga menikmati apa yang mereka lakukan. Tak perlu memikirkan bagaimana kelak nanti menjadi dewasa, mereka hanya perlu melakukan hal yang mereka anggap benar tanpa harus dimarahi atau diperingati orang tua mereka. Karena ketika orang tua mereka diam saja ketika mereka melakukan sesuatu maka mereka menganggap bahwa itu benar. Dan mereka hanya perlu melakukan hal yang membuat mereka senang, berani mencoba sampai mereka mengerti bahwa mereka telah melakukan hal yang salah ketika orang tua mereka mulai berwajah tidak mengenakkan.
Mereka berani mencoba.
Aku teringat ketika salah satu seniorku menayangkan sebuah video yang intinya adalah ketika kita kecil dulu. Banyak hal yang ketika kita kecil dulu bisa kita lakukan dan kini tidak bisa kita lakukan. Ketika kita takut untuk mencoba, berfikir banyak hal akan resiko juga tak jujur pada apa yang kita inginkan bahkan kepada diri sendiri.
Melihat kedua anak kecil itu, juga mengingat akan masa laluku membuatku kembali belajar. Belajar untuk kembali mempunyai mimpi yang besar, tanpa peduli kata orang, dan berani untuk mengambil resiko tanpa perlu banyak berfikir akan resiko itu sendiri.
Meski aku masih mulai menumbuhkannya, aku mulai berusaha. Berusaha untuk menggapainya. Seorang temanku bilang untuk berani mengambil kedua pilihanku itu, yang meski kalau difikir merupakan pilihan nekat. Tapi aku akan berusaha, berusaha untuk memilih itu.
Saat ini mungkin aku masih belum yakin, tapi aku yakin pada saat masanya tiba, saat aku memang harus memilih. Aku akan memilih keduanya. Semangaaaaaaaat!
Sekali lagi aku harus berterima kasih kepada pengajar – pengajar kehidupan J

No comments:

Post a Comment