Saturday, June 30, 2012

tentang seseorang #part 1


Tentang Seseorang..
Dia duduk dibawah pohon yang tidak bisa dibilang besar, namun tetap bisa menjadi tempat bersandar dan bersantai dikala panas dan penat. Dia melirik jalan, sesekali melihat buku catatan atau LKS yang ada dipangkuannya. Dia bukan menghilangkan lelah atau ingin bersantai disana, melainkan tugasnyalah pagi itu untuk berjaga, menunggu dan mengabsen kedatangan anggota lainnya. Sebagai salah satu orang terpilih di sebuah ekskul yang memang salah satu tugasnya adala duduk menunggu dan menertibkan anggota dibawah pohon itu. aku bahkan dia sampai sekarang tidak tahu sejak kapan pohon itu ada, kami hanya menikmati udara pagi disana, saling menyapa dan melihat kondisi yang lainnya. Mungkin itu juga salah satu manfaat dari tugas dia sebagai tukang absen di ekskul kami. Matanya teduh, sarat akan kepribadiannya sebagai sang melankolis sejati, itu juga alasanku memilih dia sebagai salah satu orang yang dipercaya mengemban tugas personil dan tertib menertib lainnya. Ia memang tidak sendiri, ada beberapa orang lainnya yang tipa harinya bergantian menjadi penunggu taman pagi. Pohon tadi yang aku ceritakan memang berada disebuah taman kecil dengan ditemani beberapa pohon dan bangku melingkar lainnya. ‘Besok dibawa ya pena sama kertasnya, jadi 10’ itu katanya ketika salah satu anggota lupa mengenakan beberapa atribut. Dia tidak bertampang kejam untuk ukuran penertib anggota, juga tidak begitu menyeramkan untuk membuat anggotanya jera. Tapi dia melakukan tugasnya dengan baik, apapun itu.
‘cepet cepet nggi, satu menit lagi’ sambil tertawa ala dia ketika aku hampir telat. Aku bukanlah orang yang sering telat, bahkan bisa dibilang aku jarang telat. Tapi aku juga tidak bisa terus menerus datang terlalu pagi, sehingga seperti inilah kadang yang terjadi. Aku tiba diwaktu yang sangat tepat.
‘siapa aja neng yang udah absen?’ aku bertanya sambil menyudahi absen, dan duduk ditempat aku menaruh tas tadi. Ikut menemani dia menunggu kedatangan yang lainnya. Dia menyebut orang – orang yang sudah absen. ‘ho, dian mana?’ aku menanyakan salah satu rekanku yang sering nongkrong di taman ini dan selalu datang pagi, tapi tidak terlihat kegendutannya disini. ‘ke kelas, lagi ngerjain apa gitu tadi katanya, eh nggi aku mau ngomong’ katanya sambil mentapku dengan tatapan yang selalu membuatku kadang tidak tega, kadang ingin tertawa dan banyak macam lainnya. Pasti ada apa apa ini, dugaku dalam hati. ‘apaan? Yaudah ngomong aja’ ‘itun nggi, adekku itu gimana ya? Udah jarang absen, aku sms ga dibales’ tuh kan bener. ‘udah diajakin ngomong belum?’ ‘yaa belum, lah aku sms aja ga dibales’ sambil menggerak – gerakkan pena yang dari pertama aku melihatnya pagi ini belum ia lepas sama sekali. ‘yaudah santai aja, nanti aku temenin. Ga usah sms – sms lagi. Langsung kita temuin aja, biar jelas juga’ kataku menenangkan. ‘ho, iyaa juga yaa’ ia tersenyum cekikian seperti biasa, kini pena itu ada didepan mulutnya, dipukulkannya ke depan bibirnya.
Satu persatu orang kembali datang, dan dia harus memberikan mereka hukuman karena kedatangan mereka yang terlambat. ‘telat 10 ti, hih telat terus’ katanya menegur rekan seangkatanku, yang ditegur cengengesan, sudah menduga bakal diomelin. ‘tau nih telat mulu. Kalo diliat adek adek gimana?’ aku ikut memarahi orang yang suka telat satu ini. ‘hehehe, maap sih kun. Eh diane, si adul udah absen belum?’ ini manusia memang pandai mengalihkan. Yang ditanya cengengesan, ‘udah ti, barusan aja hihi’ masih kesenengan. Adul adalah junior kami, yang kami kecengin bersama – sama juga merupakan adik asuh dari rekan seangkatanku yang gawenya telat ini. ‘yah, aku nggak liat dong diane. Padahal ada yang mau kuomonginlah ke dia itu.’ kata sang kakak asuh kecewa. ‘makanya jangan telat’ yang dipanggil diane masih sewot. Ya, orang yang sedari tadi aku ceritakan bernama Dian Eka Fitriani, biasa kami memanggilnya dengan diane. Kalau ditanya siapa pencetusnya aku juga tidak tahu, kalau ditanya kenapanya aku tahu. Itu karena banyaknya orang bernama dian, sehingga menyulitkan teman – temannya untuk memanggilnya, oleh karenanya dia dipanggil diane karena kata dian pun langsung bertemu huruf E dari kata Eka. Aku belum lama mengenalmya. Dia emrupakan rekan seangkatanku yang masuk ke ekskul ini ridak berbarenagn dengan aku dan aknggita lainnya. Baru ditahun kedua kami, Ia menjadi anggota sah ekskul kami. Itu karena dia tertarik ketika rekanku yang tadi telat itu membuatnya terpesona dan masuk ke ekskul ini.
Meski aku belum lama mengenalnya, tapi aku bisa dibilang dekat dengannya. Ia orang berwatak melankolis sejati, sangat rapih dan penuh perasaan, mungkin itu pula yang membuatku dekat dengannya. Aku kerap kali nyaman dnegan para melankolis.
Belakangan ini, Ia mulai banyak berubah dari segi penampilan, aku mengomentarinya ketika kami bertemu beberapa waktu yang lalu. Dia hanya senyam – senyum menanggapi. Kukira itu karena efek kami yang mulai memasuki dunia perkuliahan, ternyata tidak. Belakangan kutahu, dia mulai jatuh cinta kembali. Dengan tipenya sebagai melankolis sejati, dia memanglah orang yang setia. ‘nggi, lagi sibuk nggak?’ pasti ada apa apa, aku yang mengenalnya dengan baik sekarang ini mulai berani menyimpulkan. ‘nggak kok, kenapose?’ ‘aku mau cerita, blaabalaabaja’ akhirnya semua cerita mengalir begitu saja. Sejujurnya aku kerap kali tertawa membaca smsnya. Aku membayangkan tampang salting dengan wajah memerah darinya. Intinya adalah dia sedang jatuh cinta kembali, dia sudah berhasil berpindah. Dia move on. Dia sudah bisa merelakan orang yang selama 6 tahun ini menutupi segala ruang untuk dimasuki orang lain. Dan orang lain itu berwatak snguin, sama seperi orang yang selama 6 tahun ini selalu ada dipikirannya. ‘emang kenapa sih aku ini selalu tertariknya sama orang sanguin?’ dia menanyakan sesuatu yang sebenernya hanya dialah yang tau jawabannya. Tapi toh aku tetap menjawabnya. ‘udah jodoh emang diane, yang mealn naksir yang sanguin. Sanguin kan mencolok haha’ ‘nggi, aku galau’ hahaha dia galau karena dia sudah sebisa mungkin terlihat suka, tapi semua orang termasuk orang yang digalauin ini merasa dia terlalu cuek dan tidak suka dengan orang itu. aku mengatakan padanya untuk banyak – banyak tersenyum, dan menghilangkan wajah lempengnya itu. ‘ya gimana loh nggi, udah darin orok mukanya gini.’ ‘tapi kan bisa dilatih diane’ ‘iyaa sih, eh besok aku mau ketemuan sama itu’ ini artinya dia meau menyudahi dengan orang 6 tahunnya ini. ‘mau ngapain?’ pertanyaan standar yang sebenernya aku bisa menduga jawabannya. ‘mau ngasih kado, kemaren kan dia ulang tahun. Terus juga sekalian mau ngomong. Gimana ya kalo aku ngomong ke dia kalo aku udah nemu anti virusnya’ memang diantara dia dan orang itu sudah saling mengetahui, sudah tak ada yang oerlu ditutupi, bahkan ketika laki – laki itu punya pacar pun semua diceritakannya, dan sang perempuan ini pun sudah mengatakan semuanya. Dan itu menginspirasiku, membuat rencana yang tak pernah terlaksanakan itu akan kulaksanakan ketika seseorang itu pulang.’eh gimana gimana tadi?’ aku menanyakan bagaimana hasil pertemuannya dengan orang itu. ‘nanti aku telpon aja ya, aku lagi dijalan’ okelah, akhinrnya rasa penasaranku harus tertunda. Sore, sekitar pukul setengah 4 dia menelponku. Menceritakan banyak hal, juga akhirnya harus ngalor ngidul ngomongin kuliah. Aku sudah yakin bahwa orang 6tahun itu sebenernya tidak rela, tapi diane bialng pada akhinrya dia bilang tidak apa apa. Selesai membicarakan orang 6tahun itu, kami kembali menceritakan anti virusnya. ‘doain dia juga di UGM ya nggi’ ‘iyaa diane, semoga aku dan dia nyusul dirimu di UGM’ aku emang pengen banget nyusul diane di UGM, aku dan anti virusnya memang harus menunggu pengumuman tertulis, sedangkan diane sudah tenang karena dia mendapatkan udangan untuk menjadi mahasiswa UGM. Secara otak diane tentu saja bisa masuk HI, bahkana akuntansi. Tapi kecintaannya terhadap sejarah membuatnya memilih ilmu sejarah dan tidak yang lainnya. Dan dia berhasil masuk kesana tanpa tes. Diane bahkan masuk SMA pun tanpa tes. Diane itu pintar, tapi tak pernah terlihat sok pintar. Dan itu juga yang membuatku nyaman bersamanya. Darinya pun kau belajar banyak hal, dari tentang kerapihan, sampai urusan percintaan. Cuma ada satu hal yang aku tahu, tapi dia tak tahu bahwa aku mengetahuinya. Aku bisa saja bertanya padanya. Tapi aku tak mau, aku akan bersabar sampai suatu hari dia sendiri yang akan menceritakannya padaku.
Terima kasih buat semua yang sudah diberikan kepadaku. Tentang kesabaran juga kebahagiaan. Semoga kita satu kampus lagi yaa. Masih banyak yang perlu dibagi J

Thursday, June 28, 2012

Pengajar Kehidupan


Beberapa waktu yang lalu ketika aku ingin pergi ke suatu tempat, aku melewati sebuah rumah yang hampir berada di ujung jalan. Ketika dari dan atau menuju rumahku aku pasti melewati rumah itu. Itu salah satu rumah tetanggaku, yang Ibuku bilang salah satu penghuni rumah itu adalah satu – satunya tukang urut langgananku ketika aku bayi dulu. Aku ingat tentang hal itu, tapi aku tidak tahu bahwa aku rutin diurut oleh beliau terutama jika aku sedang rewel.
Aku melewati tempat itu juga tempat lainnya seperti biasa, aku sedang tidak ingin mwmburu waktu. Sampailah aku di rumah tetangga ku itu. Di tempat itu ada dua orang anak kecil dibawah lima tahun berjenis kelamin laki – laki dan perempuan. Aku mengenali keduanya, yang satu adalah cicitnya mbah tukang urutku, dan yang satunya lagi adalah adik teman kecilku.
Disinilah aku teringat sesuatu, bahwa dimasa dahulu aku pernah melakukan hal yang sama seperti mereka. Aku ingat, aku pernah berada di rumah seorang cowok seusiaku dan bermain bersamanya. Aku tidak ingat umur berapa aku ketika itu, yang jelas saat itu aku belum sekolah dan aku masih terlalu kecil untuk bermain sendiri. Betapa aku ingat, Ibuku juga tanteku sibuk mencari aku ketika aku bermain terlalu jauh untuk yang pertama kalinya. Teman laki – laki ku itu adalah kakaknya adik kecil yang sedang kulihat di rumah tukang urutku itu.
Dan rumah teman kecilku itu memang cukup jauh untuk ukuran tempat bermain anak – anak. Saat itu aku masih tinggal di rumah nenekku yang berada di pinggir jalan, dan rumah teman kecilku itu pun berada lebih dekat dengan pinggir jalan. Betapa bahanya pergi sendiri melewati pinggir jalan yang biasa dilewati fuso dan bus patas. Betapa tidak, rumah kami berada di jalur lintas Sumatera, dimana begitu banyak kendaraan besar yang lewat.
Ketika itu aku tidak begitu mengerti, aku hanya ingin bermain. Dan dia salah satu dari dua sepertinya yang mau bermain denganku. Meski aku hingga kini tak penah ingat apa yang kami mainkan ketika itu. Tapi aku ingat kerap beberapa kali aku main ke rumahnya, tanpa mandi, tanpa berpakaian rapih dan lengkap dan yang pasti tanpa malu.
Aku juga tidak ingat kapan aku memulai dan menghentikan aksi main itu.
Mungkin itu terhenti ketika makin seringnya aku diajak keluar kota oleh umehku. Aku tidak begitu ingat berapa kali aku main ke tempatnya. Aku hanya ingat aku pernah bermain bersama nya, meski aku juga tidak ingat apa yang kami mainkan.
Melihat kedua anak kecil di rumah tukang urutku itu, membuat aku mengingat kembali masa kecilku itu. masa ketika sepertinya aku hidup hanya perlu melakukan yang aku mau. Tanpa berfikir akan banyak resiko, lihat saja ketika kecil dulu aku tak berfikir sama sekali aku akan tertabrak, atau terserempet mobil besar. Ketika itu aku hanya ingin main titik
Aku juga ingat betapa masa kecilku masa dimana semua jujur, polos dan berjalan apa adanya. Tanpa peduli kata orang, tanpa peduli pada gengsi juga hal lainnya. Kalau difikir mungkin jika pada saat ini kami mengulang bermain bersama, hal yang kami lakukan dulu (meski aku tidak ingat) tidak bisa kami lakukan dimasa kini. Pertama karena kami kini peduli kata orang, anak laki – laki dan perempuan yang bermain bersama kerap kali dicurigai orang lain.
Jika kami main bersama kini, toh kami juga tak mungkin memainkan permainan yang sama. Karena banyak sekali batas antara pria dan wanita yang mulai tumbuh besar. Ketika ada sesuatu yang tidak boleh dimainkan para wanita, juga ada beberapa hal yang dianggap tabu jika dimainkan para pria.
Aku kembali melihat kepada dua adik kecil berbeda jenis kelamin itu. mereka tak peduli, toh tak ada juga yang akan membicarakan mereka. Mereka polos, megatakan apa yang perlu dikatakan, marah dan berbaikan kembali. Bahkan memainkan benda yang sama, ketika barbie itu dipegang dengan gagah oleh adik laki – laki itu, juga mobil – moblian itu didorong dengan gembira oleh adik perempuan kecil itu.
Mereka terlihat senang, juga menikmati apa yang mereka lakukan. Tak perlu memikirkan bagaimana kelak nanti menjadi dewasa, mereka hanya perlu melakukan hal yang mereka anggap benar tanpa harus dimarahi atau diperingati orang tua mereka. Karena ketika orang tua mereka diam saja ketika mereka melakukan sesuatu maka mereka menganggap bahwa itu benar. Dan mereka hanya perlu melakukan hal yang membuat mereka senang, berani mencoba sampai mereka mengerti bahwa mereka telah melakukan hal yang salah ketika orang tua mereka mulai berwajah tidak mengenakkan.
Mereka berani mencoba.
Aku teringat ketika salah satu seniorku menayangkan sebuah video yang intinya adalah ketika kita kecil dulu. Banyak hal yang ketika kita kecil dulu bisa kita lakukan dan kini tidak bisa kita lakukan. Ketika kita takut untuk mencoba, berfikir banyak hal akan resiko juga tak jujur pada apa yang kita inginkan bahkan kepada diri sendiri.
Melihat kedua anak kecil itu, juga mengingat akan masa laluku membuatku kembali belajar. Belajar untuk kembali mempunyai mimpi yang besar, tanpa peduli kata orang, dan berani untuk mengambil resiko tanpa perlu banyak berfikir akan resiko itu sendiri.
Meski aku masih mulai menumbuhkannya, aku mulai berusaha. Berusaha untuk menggapainya. Seorang temanku bilang untuk berani mengambil kedua pilihanku itu, yang meski kalau difikir merupakan pilihan nekat. Tapi aku akan berusaha, berusaha untuk memilih itu.
Saat ini mungkin aku masih belum yakin, tapi aku yakin pada saat masanya tiba, saat aku memang harus memilih. Aku akan memilih keduanya. Semangaaaaaaaat!
Sekali lagi aku harus berterima kasih kepada pengajar – pengajar kehidupan J

lagu ga jadi

There are so many stars outside
I look and choose that one
The one which is brighter
Finally i smile, smile and smile
A beatiful smile for that one
i don’t know why
 just an happy feeling when looking it up
feel happy feel the same
the same feeling when i remember you
as if i was at the time
but it never the same
there is no regret there even there is no you now
there is no regret there even you never know what i feel of you
there is no regret there even you never be the same as you as i know
there is no regret even you never ever realize it
 no regret, no regret no regret anymore for me
no regret, just an happy feeling as you are happy
just an happy feeling for loving you
and one regret for havent tell the true yet

Cerita angkot ungu

Pagi yang tak begitu cerah, juga tak terlalu mendung. Mentari belum menemani sang pagi.
06.35, terminal cukup sepi. Hanya beberapa remaja tanggung yang aku pun tak tahu akan apa yang mereka tunggu. Berdiri, aku pun menunggu angkutan datang. Sepi, tak ada angkutan bahkan angkutan langganan yang biasanya ngetem sekalipun.
Aku berjalan perlahan menuju seberang sebuah vihara, dimana biasanya angkutan yang tak ingin berlama – lama di terminal berbalik arah. Mencari penumpang yang ingin langsung berangkat tanpa menunggu, atau menjaring penumpang yang terburu – buru. Aku tidak terlalu siang untuk menaiki angkutan yang mana saja, namun tidak juga dapat dikatakan pagi untuk pasrah dengan angkutan manapun.
Satu angkutan datang, tanpa memilih aku menaikinya. Seorang anak SD laki – laki dan seorang anak SD perempuan yang lebih kecil dari anak SD laki – laki tersebut sudah duduk manis dibangku depan, samping pak supir. Aku menduga, mereka abudemen. Seperti kebanyakan anak SD lainnya.
Angkutan begitu sepi, hanya aku dan satu orang penumpang lain yang juga berseragam putih abu – abu seperti ku, aku yang duduk di belakan bahu sang pengemudi dapat melihat jelas dua siswa SD polos lewat kaca spion itu. Mereka tak berbincang – bincang layaknya anak kecil yang tak bisa diam, namun tangan kecil mereka memlin- milin apa saja yang ada disekitarnya. Polos, tanpa dosa. Raut muka bahagia mereka mampu menggantikan mentari yang bersembunyi pagi ini.
Angkutan terus melaju, hingga berbelok pada sebuah jalan. Melewati sebuah SD islam dan berhenti. Saatnya dua kakak beradik itu turun, aku menduga. Ternyata benar. Sang kakak laki – laki membuka pintu, berbalik arah dan mencium tangan si pengemudi, diikuti oleh sang adik perempuannya. Mungkin anak yang terlalu berbakti hingga pamit pada om abudemennya, pikirku. Mereka turun, mataku mengekor pada langkah kecil mereka. SD mereka memiliki sedikit tanjakan, aku masih dapat melihat sang kakak laki – laki menggandeng tangan adik perempuannya. Mantap, penuh percaya diri dan penuh kasih sayang. Aku tersentak, melihat penjagaan sederhana dari sanag kakak kepada adiknya. Aku beralih pada sang pengemudi, ia masih tersenyum. Tersenyum sejak kedua insan polos tadi mencium tangannya. Aku tertegun, mencari banyak kata untuk mewakili semua ini. Pagi ini begitu indah, tak kalah dengan birunya langit yang semakin cerah dan menjulang tinggi.
Esoknya aku naik angkutan yang sama dengan formasi yang sama, angkutan itu hari ini berisi penumpang yang sama. Tidak banyak, begitu sepi. Tapi aku tak melihat wajah muram dari sang pengemudi, ia sangat menikmati pekerjaannya. Aku melewati SD islam itu lagi, kedua saudara itu melakukan hal yang sama seperti kemarin, dan sang pengemudi memberikan respon yang sama. Tersnyum, bangga. Entah, aku mulai berani menyimpulkan. Mereka adalah keluarga.
Begitu jelas terpancar kehangatan daintara ketiganya, keluarga yang dipenuhi rasa syukur akan setiap rahmad yang diberikan TUHAN, tak ada raut kesal meski penumpang sangat sedikit, senyum polos dan pamit anak – anaknya membuat sang pengemudi bersemangat menapaki hari. Sebuah sktesa kehidupan yang begitu menakjubkan dari sebuah keluarga kecil yang sebenranya berjiwa besar. Sebuat potret hidup yang memberikan banyak pelajaran, tentang cinta, tentang kasih sayang, rasa syukur dan sebuah keluarga

RP


Aku punya banyak orang dan perkumpulan yang berharga di hidup aku. Di cerita ini aku hanya menceritakan dua diantaranya. Dua yang terdiri dari R dan P, sama seperti mata uang kita, RP, penggabuangan keduanya juga memiliki nilai bagiku. Mereka bernilai, tapi tak bernominal. Entahlah, aku sulit menjelaskan. Keduanya penting, dan keduanya merupakan tempat yang nyaman bagiku, dimana aku tak perlu berpura – pura, dimana aku selalu menjadi diri sendiri. Tempat dimana aku apa adanya. Menangis ketika aku memang butuh menangis, tertawa ketika itu perlu ditertawakan. Jujur.
Di kedua tempat itu pula aku mengenal banyak orang dengan banyak kepribadian. Yang aku juga tak tahu kenapa seakan dunia mendekatkanku pada orang – orang disana. Aku dipercaya mengetahui sebagian dunia mereka, aku hampir dekat dengan semua orang disana. tidak hanya perempuan, tapi beberapa laki - laki juga. Karena memang tidak semua laki - laki disana menjadikanku pilihan untuk berkesempatan masuk kedalam hidupnya. Tapi aku selalu percaya dengan para lelaki disana, dikedua tempat itu. Membuatku merasa aman dan nyaman berada disekitar sana. Banyak hal serupa ditempat itu, meski nampak luar tak sama. Jauh berbeda, bahkan yang satu tak suka dengan tempat yang lain. Tapi mereka tak ada yang mengasingkanku, tak ada yang mencegah bahkan melarangku memasuki yang lainnya. Mereka menghargai pilihanku, meski beberapa diantara mereka mengaku cemburu. Cemburu jika aku terlihat lebih melihat tempat lainnya. Aku kini tak begitu mempermasalahkan, meski aku pernah mempermasalahkan ketika mereka (dengan bercanda) menghina yang lainnya. Tapi itu dulu. Ketika banyak hal yang aku lihat hanya dari satu sisi.
Dari sisi dalam, semua hampir sama. Mulai dari ornag – orangnya, pemikirannya dan banyak hal lainnya. Oh ya, ada satu lagi perbedaannya, bukan dari faktor mereka terhadapku. Juga bukan dari faktor opini luar, maupun tampak fisik luar, melainkan pada diriku. Aku lebih lama mengenal salah satu diantaranya, namun aku menemukan sesuatu justru di tempat yang belum begitu lama aku mengenalnya.
Disatu tempat, banyak diantara kami menemukan sesuatunya, cerita bahkan berputar – putar disitu. Dan bahkan hampir semua kisah aku ketahui dari orang – orangnya yang bercerita langsung padaku, dan satu dua kisah belum terkuak meski aku juga tahu. Aku hanya perlu memberinya waktu untuk menceritakannya padaku. Di tempat ini entahlah aku menganggap semuanya sama, mungkin itu yang menyebabkan aku tak menemukannya. Tapi tidak begitu juga sebenarnya, karena di tempat aku menemukan sesuatu itu juga awalnya semua kuanggap biasa. Lebih tepatnya seperti pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Di tempat yang baru ada seorang khusus yang terlalu intens berhubungan denganku.
Berbicara tentang sesuatu itu, beberapa orang disalah satu tempat sedang merasakan sesuatu itu meski adapula yang baru memadamkan sesuatu itu. Dan seperti yang kubilang, orang – orangnya hanya muter disitu – situ aja. Orang yang mereka ceritakan adalah orang yang ada dirombongan itu juga. Untungnya kelompok yang lagi merasakan ini adalah kelompok dimana aku tidak menemukan sesuatu itu, hingga aku tak perlu merasakan apapun. Aku hanya perlu mendengarkan semuanya. Menjadi saksi bisu sesuatu yang tak tersampaikan. Saksi bisu karena aku tak perlu memberitahu yang lainnya bahkan orang dalam objek cerita tersebut. Karena menurutku ada beberapa hal yang perlu mereka sendiri yang sampaikan, apalagi jika mereka adalah lelaki.
Kadang aku berfikir bahwa sangat masuk akal ketika mereka saling mersakan sesuatu dimasing – masing tempat itu. Seperti yang kubilang tadi, kami sudah sangat mengenal juga mengerti jalan pikiran masing – masing. Kurasa semua juga merasakannya, merasa nyaman dan aman berada diantara yang lainnya. Sehingga tidak perlu mencari dliuar sana, melainkan hanya perlu mengakui pada orang – orang yang ada disini. Sayangnya aku tak pernah bisa menyampaikannya, menyampaikan pada seseorang itu. Aku pernah berfikir juga penah sempat memutuskan untuk jujur mengakui. Hanya untuk membuatku lega, tidak yang lain. Hanya jujur mengakui. Tapi aku tak bisa, bahkan hanya untuk sekedar mengirim pesan singkat mengatakan sebuah perasaan yang sedang kurasa ketika itu, perasaan rindu. Aku tak bisa, bahkan sampai kini. Sampai aku sudah tidak tahu lagi bagaimana rasa ini padanya. Sudah tak lagi memikirkan dia, sudah tak lagi menjadi bagian hidup satu dan lainnya. Sudah tak lagi saling berbagi, bahkan ‘terlihat’ peduli. Meski terkadang ia masih terselip dalam doaku. Entahlah. Aku hanya tak bisa. Terkadang aku mengagumi para perempuan yang berani menunjukkan perasaannya, berani mengungkapkan apa yang ada dihatinya. Aku hanya tak bisa. Kadang persaanku selalu kalah dengan ego dan prinsip. Bahkan ketika aku mulai berfikir peduli apa dengan prinsip dan lainnya, aku hanya perlu mengatakannya. Tapi pada akhirnya aku tetap tidak mengatakannya. Tak pernah berani mengatakan aku kangen padanya. Nggak pernah berani. Bahkan disaat dia penah mengatakannya pun, aku tak pernah bisa membalas ucapan yang serupa. Aku nggaaaak tauuuuuuuuu. Ketika itu sesuat yang lain selalu mejadi kiblatku.
Aku kagum pada mereka yang bisa melakukannya, bisa membuang prinsip bahwa wanita harus mejadi pilihan, bukan memilih. Mereka berjuang, meski terkadang terlihat norak. Tapi mereka melakukan sesuatu, tidak seperti aku yang selalu bergelut dengan pikiran – pikiran ku sendiri.
Kadang pada orang yang berada disalah satu tempat itu, aku ingin mengatakannya. Hanya ingin mengatakannya, dia tak perlu membalas serupa, bahkan dia tak perlu memberi respon. Aku hanya ingin jujur mengakui, tanpa aku (mau) mengetahui apa yang dia rasa, apa rekasinya. Hanya ingin mengatakannya, tak mau mendengar apapun darinya.
Tapi pada akhirnya egokulah yang menang, ketika pertanyaan dan pikiran mulai bermunculan. Gimana kalo dia nanya kenapa bisa ngomong gitu? Gimana kalo dia justru bilang yang serupa hanya karena dia nggak mau melukai aku yang udah berani mengatakannya? atau gimana kalo dia bilang serupa hanya untuk menyenangkanku atau malah karena dia kasihan? Atau gimana kalo dia bahkan nggak memberi respon apapun? Apa iya aku Cuma mau bilang dan nggak kesel kalo dia bahkan nggak memberi respon apapun? Kuarasa aku tak sanggup. Dan pada akhirnya semua ego dan asumsi – asumsi ku itu memenangi semua, ditambah dengan kenyataan dia telah memilih seseorang. Kenyataan bahwa semua memang sudah berakhir, bahkan sebelum aku dan dia saling mengetahui. Kenyataan bahwa (mungkin) dari dulu sampai sekarang sesuatu itu hanya milikku sendiri.
Lagi, aku harus bilang aku menyukai kedua tempat itu, merasa nyaman di dua tempat itu, tapi tak banyak orang yang aku ceritakan tentang kisahku. Meski aku mengerti disatu tempat beberapa orang diantaranya mengetahui kisahku, meski aku tak pernah menceritakan kepadanya. Seperti aku, dia mengerti orang – orang di kedua tempat ini. Kami sama – sama mengerti, sama – sama mengetahui satu dan lainnya meski tanpa sebuah atau banyak kata yang tercurah. Kami hanya perlu menghargai, merasa tak perlu terlihat tahu, meski kami sama – sama tahu bahwa kami saling mengetahui. Itulah mengapa aku suka kedua tempat ini, begitu banyak orang yang saling mengerti.