Di kehidupanku ada begitu banyak laki – laki, begitu banyak. Laki - laki dengan golongan teman, yang jarang sekali ku ajak berbincang, mereka kuanggap teman karena tak ada gelar lain yang bisa diberikan, mereka berkumpul terikat denganku karena suatu komunitas atau kelompok mungkin, yang biasa kami namai sebagai kelas. Laki - laki lain bernasib sama seperti mereka, dengan golongan yang sama tapi bertaraf lebih tinggi dari mereka. Ini laki - laki tipe kedua, laki – laki dalam kelas juga namun lebih sering berbincang denganku dibanding laki - laki sebelumnya. Di dalam sebuah wadah besar, yang mengaitkan, mengelompokkan juga membuat banyak orang berkumpul entah secara sengaja atau tidak.
Kemudian masih dalam kelompok yang sama, teman sekelas, ada laki – laki yang dekat denganku. Bukan dekat seperti kebanyakan orang maksud, dia teman kelasku, namun kuanggap sebagai saudara, kejadian waktu aku masih pakai putih merah. Laki - laki yang sering pulang bersamaku, yang bersamanya pula lah aku diizinkan pergi malam, itu juga karena sahabatku yang lain. Laki – laki itu kuanggap sebagai saudara, kakak, meski kami bahkan kini jarang berbagi, tapi dia tak pernah berubah, begitu pula aku, katanya.
Laki – laki selanjutnya dari golongan tetangga kelas sebelah, laki – laki yang tidak pernah sekelas denganku, yang bahlkan kami tak pernah bertegur sapa jikalau kami bertemu. Laki – laki golongan ini tak pernah peduli atau kupedulikan pada hadirnya dia dikehidupan kami masing – masing. Yang kami sama – sama tau, kami pernah satu ikatan, ikatan yang melebeli kami dengan nama yang sama, yang kami sama – sama sebut sebagai sekolah. Dialah teman satu sekolah.
Laki – laki lain, juga masih dalam kelompok yang sama tapi dengan perlakuan yang berbeda, laki – laki ini temanku. Juga. Terikat dalam sebuah bangunan megah, yang berbilik- bilik dan kami menempati bilik yang berbeda namun kami tetap saling mengenal, menyapa ketika saling bertemu, atau mendiskusikan suatu hal mungkin. Laki – laki golongan ini terikat dalam almamater yang sama, dan aku mengenalnya. Berbeda sedikit dari golongan sebelumnya.
Laki – laki berikutnya adalah golongan yang menaksirku namun mereka tidak mendapat perlakuan balik serupa dari orang yang mereka taksir, alias aku. Ini golongan laki – laki yang pada akhirnya mungkin menganggap aku sombong dan sebagainya, dan akhirnya menyerah mendekatiku serta memilih pergi begitu saja, dan seperti itulah aku menilai rasa suka mereka kepadaku.
Setelah mereka ada laki - laki yang juga naksir denganku, aku juga tidak naksir dengannya, namun pada akhirnya kami tetap berteman. Dekat, saling berbagi banyak hal, saling tertawa atau bahkan saling bercerita tentang perasaan kami masing – masing. Ya, masing – masing karena pada akhirnya dia mengerti bahwa aku tidak bisa menyukainya. Golongan ini terbagi menjadi dua, golongan yang aku tahu menyukaiku, namun golongan ini tak pernah menyampaikannnya secara tersurat, hanya tersirat. Dan golongan lainnya menyampaikannya secara tersirat maupun tersurat. Tapi toh apapun yang mereka sampaikan, aku senang. Meski aku tak bisa membalasnya, bukan karena sesuatu yang sering mereka bilang, melainkan lebih kepada bukan dia yang berada pada posisi mereka. Sesimpel itu.
Kemudian adalah laki – laki dari golongan yang aku taksir, yang sampai saat ini tak satupun dari mereka aku ketahui perasaannya terhadapku. Aku menutup mata juga hati akan respon perasaan mereka terhadapku. Aku suka mereka, tanpa (mau) tahu perasaan mereka. Mungkin karena aku takut aku salah mengartikan perasaan mereka, aku hanya mungkin tidak mau terluka atau melukai. Entah. aku tak begitu paham dengan hal ini, yang aku tahu aku menyukai mereka titik
Tapi pada laki – laki berikutnya yang ingin aku ceritakan ini, masih dalam golongan yang aku taksir, laki – laki yang berbeda. Yang pernah menyampaikan perasaaanya terhadapku secara tersirat, namun karena masih dalam konteks ‘laki – laki yang aku suka’ maka mata, telinga juga hatiku tertutup. Aku tak berani memercayainya, kembali aku takut menafsirkan sesuatu yang beda, atau bahkan aku menganggapnya bercanda, meski sebenarnya guyonan dia tidak lucu dan membuatku jungkir balik senangnya. Namun pada akhirnya laki – laki golongan dia sekalipun, pergi begitu saja. Menyedihkan, bukan padanya, melainkan pada diriku sendiri.
Selanjutnya ada golongan laki – laki yang ayah dan ibuku bilang mempunyai hubungan kekerabatan, hubungan darah dan semacamnya. Laki – laki golongan ini dinamakan saudara. Dan golongan ini kembali terpecah menjadi dua, mereka yang dekat denganku, yang kepadanya kami saling berbagi, menghabiskan waktu bersama secara harfiah. Karena sebenarnya kami menghabiskan waktu bersama juga dengan banyak orang dalam satu waktu, yang apapun itu, laki – laki dalam golongan ini sering berkomunikasi denganku dan golongan lainnya adalah mereka yang selamanya hanya bergelar saudara tanpa pernah membagi cerita denganku, tanpa pernah kami peduli untuk mengetahui kehidupan satu sama lainnya.
Laki – laki berikutnya, Cuma satu. Laki – laki ini punya hubungan darah denganku, namun lebih intim. Kami satu susuan, tinggal satu rumah, bahkan beberapa tahun dulu kami tinggal satu kamar. Laki - laki yang aku hormati, namun kadang suka sekali membuatku kesal. Laki – laki yang sering aku kagumi, bahkan dibeberapa bagian, kujadikan referensiku dalam memilih suami. Laki – laki yang kadang tanpa harus aku membagi cerita dia sudah mengerti, ya meskipun banyak kali dia begitu menyebalkan dan terlihat seram, bahkan kepada adiknya sendiri. Yang kata – katanya mampu membuatku berambisi untuk membuktikan atau sekedar manabur impian untuk digapai.
Laki - laki berikutnya, golongan yang aku idamkan. Yang kerap kali aku sebut dalam perbincanganku pada teman – teman wanitaku, yaitu golongan laki – laki yang aku harap menjadi imamku, tanpa sebut merek karena aku memang belum ditemukan olehnya, belum ditemukan bukan belum kutemukan, aku wanita dengan kodrat ditemukan. Laki – laki golongan ini kuharap laki – laki salemba dengan jas putih mengkilap dan sering mengunjugi masjid juga sibuk berorganisasi serta tampan bertanggung jawab juga berani. Laki – laki dalam golongan ini yang juga kuidamkan adalah mereka yang merefleksikan affandi hasan atau calon pengusaha yang berasal dari bandung, yang kerap kali kuidamkan mempunyai iman yang tak kalah dengan materi maupun tampang yang ia punya. Laki – laki yang meski kuidamkan tapi belum masuk kedalam list doaku. Karena tulisan inilah entah kenapa aku ingin meyebutnya dalam doaku nanti.
Laki – laki terakhir adalah laki – laki yang lewat spermanya lah aku dijadikan olehNYA dan diijinkanNYA untuk hidup di dunia ini, laki – laki yang lewat keringanya aku bisa sehat, bergizi juga menjadi aku yang sekarang ini. Yang sekali, dua kali membuatku kesal namun dimenit atau jam berikutnya membuatku menangis atau sekedar menyesal karena perlakuanku padanya. Laki – laki yang menyimpan banyak harapan kepadaku, yang aku tahu sedikit banyak bangga terhadapku. Yang membuatku selalu ingat untuk membahagiakannya bahkan lewat hal – hal kecil yang aku lakukan kepadanya, laki – laki yang aku tahu begitu mencintaiku juga kucintai. Laki – laki yang sering melarangku banyak hal, memerintahkanku akan banyak hal pula, juga bercerita, berbagi bahkan tertawa bersama. Karena dalam beberapa hal aku mirip dengannya, termasuk selera dan sifat. Laki – laki yang kemarin membuka topik yang kerap kali kami hindarkan, yang sekali dua kali ia buka dengan tujuan melarang dalam kata tersirat. Namun tidak untuk kemarin, ia bercerita banyak hal tentang topik itu, topik yang dahulu isinya sering kali kuhafal dan secara tidak langsung menjadi kiblatku dalam pergaulan hingga saat ini. Sebuah topik yang tabu bagi kami berdua, yang bisa dibilang aku sih nurut – nurut aja, toh belum ada yang membuatku nekat untuk memberontaknya hingga saat ini. Topik itu mengalir begitu saja, tanpa pembuka dan penutup, diselingi beberapa pertanyaan standarku juga ekspresi biasa dariku. Meski dalam hati aku sudah senyam senyum tak karuan heran akan apa yang laki – laki kokoh ini bicarakan. Secara tersirat aku menangkap ia mengizinkanku, mencabut larangannya selama tujuh belas tahun lebih usiaku. Secara tersirat pula di dunia kuliahan aku dizinkan menjalin hubungan, aku ingin tertawa sebenarnya. Tapi senyum kukira sudah mewakili semua rasa yang ada. Akhirnya laki – laki ini terbuka akan hal ini, sadar bahwa pada akhirnya aku akan direbut oleh laki – laki lain selain dirinya. Yang akhirnya ia mengerti puteri kecilnya yang dulu sering kali menangis, dan mengadu kepanya, yang sering kali ia gendong dan menghabiskan waktu bersama, kini sudah tumbuh seperti yang aku harap ia harapkan. Yang pada akhirnya ia sadari puteri kecilnya tak bisa selamanya bersamanya, yang pada akhirnya pula ia menyadari, akan ada orang lain yang juga dicintai selain dirinya oleh puteri kecilnya. Puteri kecil itu kini sudah boleh menentukan sebuah kepercayaanya, ia sudah memercayai puteri kecilnya telah dewasa, ia memercayainya untuk memegang tanggung jawab bahkan dalam hal kecil yang disebut hubungan, yang secara tersirat pula dalam topiknya laki – laki ini menjelaskan bahwa ada dampak positif dan negatif dari hal ini. Beliau mewanti – wanti, tapi tetap mengizinkan, ya secara tersirat. Namun hal itu sudah membuatku lega, ia tahu aku mengunggu izinnya untuk hal ini, meski disisi lain ia pun tahu aku bisa saja nekat melanggar aturannya sebelum ia mengizinkan. Kupikir ia membuka topik ini dan memberi ku izin karena ia tahu dalam 5 bulan kedepan aku akan berpisah pulau dengannya, menjaga diri sendiri. Sekali lagi, ia hanya mewanti – wanti. Tidak ingin aku tersesat dan salah jalan dalam kehidupan. Ia ingin aku bahagia, sehat, dan tumbuh seperti yang ia harapkan. Ia hanya ingin aku menemukan imam dan kehidupan yang tepat. Keinginan yang juga sama denganku. Yang aku harap ALLAH mendengar dan mengijabahnya
No comments:
Post a Comment