Thursday, October 06, 2011

sampahajaini :D, sept 11

Aku berada di suatu tempat yang sangat jauh, dimana untuk menemui ku dibutuhkan kesabaran. Karena begitu banyak tembok disana. Seseorang mencoba menemuiku, namun dia hanya mampu berdiri di tembok pertama. Ia mengajak yang lainnya, yang lainnya tertantang menghancurkan tembok itu, tapi lagi – lagi mereka hanya mampu menatap menyesal tembok itu. Beberapa waktu berlalu, seseorang kembali mencoba menghancurkan tembok itu. Ia berhasil menghancurkan tembok itu, bahkan tidak hanya satu, dia menghancurkan banyak tembok itu. Tinggal satu, tembok terakhir maka dia akan berhasil menemuiku. Namun, disaat perjuangannya seseoarang (tidak sengaja) hadir. Ia tak seperti yang lainnya. Ia tak hancurkan tembok – tembok itu. Ia seorang designer yang (tak sengaja) temukan tempat itu. Ia sampai di tembok terakhir, sama dengan orang yang juga sedang berusaha menghancurkan tembok terakhir tadi. Namun, mereka tak sama. Seorang designer itu bahkan sampai di tempat terakhir begitu cepat, ia temukan jalan lain untuk tiba di tembok terakhir, ia tak hancurkan tembok – tembok sebelumnya, ia dengan mudah dan begitu cepatnya sudah berada disana. Ia melihat dengan seksama tembok terakhir itu, disaat seseorang yang sejak lama berjuang menghancurkan tembok – tembok sebelumnya masih terus berjuang menghancurkan tembok terakhir. Mereka tak bertegur sapa, karena mereka sama – sama tak mengetahui bahwa mereka berada pada ruang yang sama. Kini tujuan mereka sama meski mereka memilih proses yang berbeda. Aku masih menunggu diseberang tembok terakhir, menanti diantara mereka menyelamatkanku. Si pekerja keras masih dengan cara – caranya, ia tak menyerah merontokkan satu persatu bata pada tembok itu, sedang sang designer dengan anggunnya membuat sketsa, membuat sesuatu yang bahkan aku pun tak menyadarinya. Ia menyusun semua batu bata yang dirontokkan sang pekerja keras, ia bahkan menambah anggun tembok itu. Dengan perlahan tapi pasti, tembok itu kini bukan hanya sebuah tembok sebagai batas. Kini tembok itu sudah menjadi sebuah ruang, sebuah dimensi tiga. Aku masih didalam, tak sadar atau bahkan terpesona hingga aku tak sadar bahwa aku di tempat sebelumnya namun tempat itu kini berbeda. Sebuah tembok itu kini mempunyai atap yang indah, ternyata sang designer bisa mengelilingi tempat itu dan dia melihatku, aku hanya diam. Bingung. Apakah aku harus berlari ke arahnya karena ia orang yang pertama menemuiku? Ataukah aku harus memanggilnya agar dia menjemputku? Aku memilih diam, melihat punggungnya yang terus menghiasi ruangan tempatku berada. Melihat tubuh kokohnya yang terus membangun hal – hal indah di ruangan itu. Perlahan aku menyadari, ruangan itu kini berubah. Cantik. Aku menikmati tempat ku berada, tapi ia tak kunjung menemuiku, ia masih berkutat dengan menghias dan menambah hal – hal baru di ruangan itu, yang kurasa sudah lengkap. Melihatnya mengukir keindahan di ruangan tempatku berada, membuatku terlena hingga pada akhirnya mataku terfokus padanya, bukan pada ukirannya. Sesekali ia mendekatiku, membuatku berharap bahwa sudah waktunya ia menjemputku, mengajakku keluar dan melihat banyak hal. Ternyata tidak, dia hanya berkata: ‘betapa indahnya gaun yang kau kenakan’, aku tersenyum ketika itu. Satu pujian untuk suatu permulaan. Dia melanjutkan pekerjaannya, lagi – lagi aku masih menikmati saat – saat ketika dia bekerja. Hingga ia kembali menghampiriku, menghentikan sejenak pekerjaannya dan berkata: ’tahukah kau, mengapa aku mendesign atap disebelah sana berulang – ulang?’ katanya sambil menunjuk atap yang untuk membuatnya memerlukan waktu terlama sejak ia melakukan pekerjaan itu untuk pertama kalinya. Aku hanya menggeleng, karena aku memang tak pernah tahu. Dia tiba – tiba hadir dan mengubah tembok sederhanaku, menghias tempat persembunyianku juga menipiskan batas terbesarku. ‘karena aku teringat gaun yang kau pakai ketika itu, aku merindukan saat – saat itu, dan mencari sesuatu yang tepat untuk mengapresiasikannya dalam designku.’ Ia melanjutkan. Aku terdiam, senang. Namun aku tersadarkan oleh sesuatu. Sesuatu yang membuatku berfikir akan banyak hal, dia kembali pergi melanjutkan pekerjaannya, dan diwaktu istirahatnya ia menghilang. Seperti biasa. Namun aku tetap di tempatku, menunggunya kembali melanjutkan pekerjaannya. Ketika ia dalam istirahatnya, sang pekerja keras kembali meruntuhkan tembok terakhir itu, yang sudah beberapa waktu ini direnovasi sang designer. Ia dengan sisa tenaganya menghancurkan karya sang designer. Aku sadar seseorang memalu bangunan indah yang hampir jadi itu, entah kenapa aku khawatir seseorang yang lain diseberang menemuiku, aku mencari cara agar hanya designerlah yang bisa menemuiku. Hingga ketika sang pekerja keras menghancurkan bata – bata pada ruangan itu, aku menyusun bata – bata itu dari tempatku, berharap sang designer cepat kembali dari istirahatnya dan menggagalkan aksi pekerja keras. Pekerja keras berhenti dari pekerjaannya, menatap tembok didepannya. Heran akan tembok yang tak kunjung bisa ia hancurkan, tembok yang kini semakin indah dan jauh. Ia berteriak, mencoba berkomuniaksi denganku, batas kami kini ada tembok yang semakin tebal, kokoh dan membentuk ruang. ‘hai kau yang ada diseberang sana, mengapa kau tak izinkan aku hancurkan tembok ini? Aku telah hancurkan banyak sekali tembok diluar sana, apa kau tau itu?’ suara itu tak terdengar marah, cenderung terdengar lelah. Aku terdiam, merasakan kelelahan yang ia rasakan, ‘tidakkah kau sedikit adil dan melihat perjuanganku? Ataukah ada seseorang yang kau tunggu untuk bisa menjemputmu disana?’ ia meminta keadilan, dan aku tersentak, hatiku membenarkan hingga aku tak sanggup berkata dusta. ‘apa kau ingin aku pergi membawa semua pengorbanan dan kerja kerasku dengan tanpa kau berbaik hati melihatku?’ ia melanjutkan. Aku membisu. Hingga kudengar langkah kakinya menjauh, dan kemudian hilang. Aku meringis, dan ketika designer kembali dengan senyum yang aku tunggu pikiranku tentang kejahatanku pada sang pekerja keras hilang sudah, terbayar oleh kehadirannya. Ia kembali membuat pola – pola cantik pada ruanganku. Ia menghampiriku lagi, aku sampai meremas tanganku agar tak ada kegugupan saat ia mengatakan sesuatu padaku, aku menahan nafas beberapa detik agar bisa menormalkan detak jantungku. ‘aku merindukanmu ketika aku tak melihatmu beberapa waktu yang lalu dan kau mengingatkanku akan seseorang’ aku tersenyum, aku bahagia sekali, hingga aku tak mendengar kalimat terakhir yang ia ucapkan. Aku terlanjur menimbun banyak harapan, hingga aku tak mendengar sebuah pernyataan. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, dan aku tetap dengan pekerjaanku, memerhatikan ia bekerja, bukan pekerjaannya. Kata – katanya terngiang kembali dipikiranku, membuatku tersentak. Membuatku sadar akan sesuatu, aku mengulang sampai tiga kali kalimat terakhirnya, dan menyimpulkan sesuatu. Aku kecewa, entah untuk apa. Ia kembali tersenyum ke arahku, dan aku menatap kosong senyuman itu. Ia kaget melihat aku yang tak seramah kemarin, ia menghampiriku. ‘akankah aku membuat suatu kesalahan hingga kau lesu dan tak menebar senyum seperti kemarin?’ aku menggeleng. ‘tahukah kau betapa aku rindu denganmu’ pernyataan itu terdengar berbeda kini, aku terdiam. Aku tak mampu kembali menuai mimpi. Aku tertunduk lesu, dan ia membiarkanku sendirian di tempat itu. Ia pergi. Aku melihat sekelilingku, menatap dan membandingkan bangunan tempatku berdiri kini. Ia telah mengubah banyak hal pada sebuah tembok, sesuatu yang indah tapi janggal. Karena tembok yang disulap menjadi istana kecil itu tanpa jendela atau celah. Aku mulai sesak napas, tak ada udara disana. Bagaimana aku bisa disini sejak tadi? Aku berteriak dengan sisa – sisa tenagaku, berharap designer kembali atau ada seseorang yang menolongku. Seseorang datang, bukan untuk menolongku hanya meminjamkan palu agar ada celah yang bisa dihasilkan, ia bahkan tak perlu waktu lama untuk mencari cara bagaimana ia bisa meminjamkan palu itu, karena ia cukup melemparkannya, memberi celah sedikit, palu itu manembus tembok membuat sebuah celah, dan orang itu pergi. Tak peduli. Disaat yang sama designer kembali melihat seseorang melempar palu kedalam ruanganku. Ia bertanya padaku, ‘apakah kau mengutus seseorang untuk menghancurkan karyaku? Atau sejak awal kau memang tak berniat aku mengubah sedikit ruangmu?’ ia mencetuskan pikiran yang tentu saja berbeda dengan pikiranku. Aku menggeleng dengan tegas, ia tak percaya. Aku berkata tidak, ia masih tak percaya, hingga pada akhirnya ketika aku berteriak, ia pergi. Aku hanya bisa menatap punggungnya dari sedikit celah tadi, aku masih di ruangan itu. Hanya sang designer yang tahu bagaimana keluar darisana, aku tak bisa melihat jauh keluar, karena celah itu begitu kecil dan hanya mampu memberi udara agar aku bisa bernafas. Aku pun tak bisa membawa seseorang masuk kedalamnya, karena sang designerlah yang pegang kuncinya. Aku bahkan terjebak disana tanpa mampu melihat orang – orang diluar sana. Aku ingin menangis, tapi buat apa? Aku masih di ruangan itu, berharap sesuatu mengikis tembok kokoh itu, berharap terdapat celah setelah pengikisan itu, berharap aku bisa keluar darisana, atau sesorang diluar sana membuka celah itu. Setelah celah itu membesar dan membuatku keluar, aku akan menemui designer itu. Mengatakan sesuatu yang tak pernah berani kuucapkan. ‘hai designer hebat, tempat yang indah dan selalu kukagumi, karya yang indah yang tak mungkin bisa kulupakan, dan designer luar biasa yang tak pernah membuatku menyesal. Terimakasih untuk membuatku melihat suatu bangunan indah,”
*backsound seberapa pantas, SO7*
Buat Pewe, you are just unlucky fighter. But you are still the best fighter whom I’ve ever met. And as you think, you are fluently right about waiting for someone. Sorry for so much things those i did to you, and thank you so much for everything that you did to me 
Laaaaaaaaaaaaaaaaast, buat dia yang ga pernah bisa buat aku jujur mengakui semua hal didepannya, terimakasih. Buat semua hal tak terlupakan selama hampir dua puluh dua bulan mengenalnya, terimakasih.

No comments:

Post a Comment